Home / Kolom / TREM BATERAI UNTUK SURABAYA

TREM BATERAI UNTUK SURABAYA

TREM BATERAI UNTUK SURABAYA

Oleh : Widoyoko

Beberapa bulan yang lalu di berbagai media Menhub menyampaikan bahwa Trem Surabaya akan menggunakan tenaga baterai dengan teknologi yang canggih. Saat ini selain Surabaya, beberapa kota besar di dunia sudah dan akan menerapkan Trem battery tersebut sebagai bagian dari sistim angkutan umum masal yang ramah lingkungan. Karena Menhub belum merinci lebih lanjut apa dan bagaimana Trem baterai tersebut maka Majalah KA mencoba membahasnya secara singkat apa dan bagaimana Trem baterai tersebut.

 

Sebetulnya hampir di seluruh dunia sebagian besar kendaraan Trem masih menggunakan sistim listrik aliran atas atau catenary. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan para perancang kota yang semakin canggih maka sistim catenary pun kurang disukai. Beberapa pertimbangan yang membuat sistim catenary kurang disukai diantaranya adalah biaya pembangunan, pemeliharaan, keselamatan dan tentunya estetika.

Sudah jelas bahwa Trem listrik membutuhkan listrik sebagai penggeraknya dan teknologi yang tersedia dan terbukti handal saat ini sebagai penyedia tenaga listrik adalah sistim catenary di atas. Walau jalur jalan rel sudah siap namun biaya tambahan dibutuhkan untuk elektrifikasi seperti kabel-kabel dan konstruksi penyangga, sub-station pada jarak beberapa km, dan peralatan listrik lainnya. Selesai dibangun sistim catenary ini tentu membutuhkan pos biaya pemeliharaan tersendiri.

Di negara-negara bermusim dingin akumulasi es pada sistim catenary dapat menimbulkan percikan api yang dapat merusak pantograf. Kondisi cuaca yang buruk seperti angin kencang (Tornado) yang mampu merobohkan bangunan juga berpotensi membahayakan keselamatan bila tiang-tiang penyangga rubuh dan menimpa mahluk hidup diseitarnya.

Selanjutnya bagi arsitek perancang kota faktor estetika juga memiliki pertimbangan khusus karena jaringan catenary bukan pemandangan yang sedap di mata apalagi kalau jalur Trem terpaksa harus melalui pusat kota tua yang bersejarah dimana sistim catenary akan merusak pemandangan kawasan kota tua tersebut. Sering terjadi diskusi hangat antara perancang kota dan pengelola transportasi masal karena untuk mendukung kegiatan turisme sistim angkutan masal pun harus bisa menjangkau kawasan kota tua tersebut.

Sebagai jawabannya para ahli pun mulai mengembangkan teknologi Trem tanpa catenary. Pada pameran Innotrans 2014 yang lalu berbagai sistem Trem tanpa catenary turut dipamerkan diantaranya Trem dengan tenaga baterai. Berikut ini diuraikan beberapa berapa jenis teknologi Trem tanpa catenary.

Secara garis besar Trem tanpa catenary dibagi dalam 2 golongan yaitu pertama dengan menggantikan konstruksi listrik salauran atas dengan konstruksi saluran bawah dimana sumber listrik diperoleh dari “rel ketiga” dan kedua kendaraan Trem itu sendiri yang membawa sumber tenaga listrik yang dibutuhkannya.

 Sistim listrik aliran bawah

Untuk point pertama beberapa perusahaan ternama seperti Alstom dan Bombardier mereka telah mengembangkan sistim listrik aliran bawah sendiri sendiri dengan konsep yang berbeda.

Alstom mengembangkan sistim yang dinamakan APS system (Aesthetic Power Supply). Secara singkat sistim ini terdiri dari beberapa power unit yang diletakkan di bawah track dengan  jarak interval tertentu. Energi listrik disalurkan melalui konduktor listrik yang kemudian diambil oeh dua buah alat penerima yang dinamakan “collector slippers”. Alat penerima ini berada di bagian tengah kendaraan Trem. Energi listrik juga disimpan di baterai pada kendaraan trem sehingga apabila salah satu power unit rusak kendaraan Trem masih dapat berjalan dengan lancar.

Agar sistim ini aman bagi pejalan kaki yang melintasi jalan Trem maka sistim ini dibuat sedemikian rupa agar peralatan ini hanya akan bekerja bila ada kendaraan Trem yang melintas di atasnya. Sistim APS ini sudah diterapkan dikota-kota Perancis seperti Bordeaux, Angers, Oleans dan Rheims.

Skema cara kerja sistim APS (sumber Alstom)

Selanjutnya Bombardier mengembangkan sistim yang sama tetapi sedikit berbeda konspepnya. Sistem yang dikembangkan oleh Bombardier dinamakan Bombardier Primove System (BPS). Sistim BPS menggunakan konsep berbeda yaitu dengan konsep induksi listrik.

Sistem BPS ini terdiri dari sumber tenaga listrik berupa segmen-segmen kabel di bawah track. Bila segmen ini diaktifkan akan tercipta suatu medan magnet. Pada kendaran Trem terdapat alat penerima yang merubah energi medan magnet ini menjadi energi listrik untuk menggerakkan Trem.

Karena sistim ini bekerja tanpa kontak langsung antara penghantar listrik maka keuntungan sistim ini dapat bekerja pada segala cuaca, namun kerugiannya adalah pengaruh medan magnet yang kuat terhadap peralatan elektronik lainnya, seperti misalnya alat pacu jantung bagi penderita sakit jantung. Namun para insinyur di Bombardier sedang bekerja keras untuk meniadakan pengaruh medan magnet tersebut agar tidak mengganggu alat elektronik lainnya. Saat ini sistim Primove ini sedang di uji cobakan di kota Augsburg – Jerman untuk membuktikan bahwa sistim yang dikembangkan oleh Bombardier ini layak dan aman untuk digunakan.

Pabrik Trem lain yang juga mengembangkan sistim listrik aliran bawah ini diantaranya AnsaldoBreda dari Italia yang dinamakan TramWave system.

Baterai atau Super Capacitor

Teknologi lain yang dikembangkan oleh para insinyur adalah teknologi baterai dan supercapacitor. Dengan ini maka infrastruktur jalan Trem tidak terlalu rumit cukup yang konvensional saja, namun diperlukan sistim pengisian (charging system) baterai atau super capacitor yang canggih. Trem dengan tenaga baterai umumnya membutuhkan waktu pengisian yang cukup lama namun keunggulannya memiliki jangkauan operasi yang lebih jauh sedangkan menggunakan super capasitor pengisian bisa dilakukan dengan cepat sekitar 20 detik namun jangkauan operasi lebih pendek. Operasi Trem bertenaga baterai umumnya juga digabung dengan penerapan sistim catenary.

Tabel berikut memberikan beberapa perbandingan antara Trem dengan baterai atau super capacitor.

Fitur Baterai Super-capacitor
Perkiraan umur 20,000 cycles 100,000 cycles
Penerapan energi regeneratif No Yes
Perkiraan harga 20% harga kendaraan + penggantian saat umur  ekonomis berahir 20% dari harga kendaraan + penggantian saat umur  ekonomis berahir
Waktu pengisian Tinggi Rendah
Jangkauan operasi diantara pengisian Tinggi Rendah

Sumber: Global Mass Transit Research

 

Diantara kota besar yang baru-baru ini memesan Trem bertenaga baterai adalah kota Konya – Turki. Kota berpenduduk sekitar 1,1 juta jiwa ini mulai mengoperasikan Trem baterai pada tahun ini.  Trem kota Konya dibuat oleh pabrik Skoda dan beroperasi pada jalur gabungan dengan dan tanpa catenary. Baterai di charge pada saat Trem melalui jalur ber-catenary. Begitu Trem melalui jalur tanpa catenary maka Trem menggunakan listrik dari baterai yang sudah di charge tersebut. Trem Konya menggunakan baterai dengan teknologi   terkini yaitu baterai “nano-lithium-titanium”.

 

Seperti telah diuraikan pada Majalah KA edisi terdahulu tentang Trem di Turki, kota Konya merupakan kota tua yang sudah ada sejak zaman Romawi, karena itu dinas warisan budaya tidak mengizinkan perubahan pemadangan kota tua sehingga Trem dengan catenary mejadi hal yang tabu. Tram bertenaga baterai ini merupakan kompromi yang memuaskan semua pihak di kota Konya.  Trem baterai kota Konya ini akan beroperasi pada jalur baru sepanjang 6 km dimana 2 km diantaranya tanpa catenary. Tahun 2015 ini pabrik Skoda akan menyerahkan sebanyak 12 unit Trem baterai kepada Pemerintah Kota Konya. Selanjutnya sudah banyak kota-kota lain terutama di Eropa yang mengunakan Trem baterai – canenary seperti ini.

Tram baterai kota Konya di pameran Inndorans 2014

Teknologi Trem bertenaga baterai ini masih terus dikembangkan, selain oleh Skoda juga oleh pembuat-pembuat Trem lainnya. Catatan rekor trem baterai terahir yang dicatat oleh Guiness World Record adalah prestasi perjalanan Trem baterai pada tanggal 15 Juli 2014 dimana sebuah Trem experimen dengan satu kali charge berjalan sejauh 24,596 km dalam tempo satu hari. Record Trem baterai ini dicatat di kota San Diego – Amerika. Trem baterai experimen tersebut merupakan modifikasi dari Trem Siemens tipe S70.

Kelemahan sistim baterai yaitu waktu pengisian (charging) yang agak lama dapat diatasi oleh sistim super capacitor. Pengisian super capacitor yang cukup singkat membuat sistim ini juga cocok digunakan untuk menyimpan energy pada saat pengereman. Ukuran besarnya super capacitor tergantung dari jangkauan Trem yang diinginkan. Secara teknis penerapan teknologi baterai dan supercapacitor dalam satu kendaran Trem dapat digabung dengan baik. Hampir semua pabrikan Trem dapat mengerjakan sistim gabungan ini, hal ini tergantung permintaan operator.

Perlengkapan super capacitor umumnya ditaruh di bagian atas Trem. Karena pada umumnya Trem modern adalah Trem lantai rendah maka tempat yang tersedia untuk meletakkan sistim supercapacitor atau baterai hanya di bagian atas Trem.

 Perlengkapan super capacitor “MITRAC” yang dikembangkan oleh Bombardier

 

Trem yang ditenagai oleh 100% super capacitor saat ini sedang dikembangkan oleh CSR (Tiongkok) dan Siemens. Mereka telah membuat sebuah prototipe Trem yang 100% mengandalkan super capacitor. Siemens menyediakan sistim control dan propulsi, powered bogie berikut sistim remnya dan sistim pendukung (auxiliary) lainnya. Selebihnya dibuat oleh CSR.

Super capacitor pada Trem ini di charge secara otomatis dengan durasi antara 10-30 detik oleh sebuah power supply pada saat Trem berhenti menurunkan atau menaikkan penumpang di halte.  Sekali charge Trem tersebut mampu berjalan maximum sejauh 4 km. Saat melakukan pengereman sebanyak 85% dari energy pengereman yang dihasilkan disimpan sebagai energy listrik yang dapat digunakan kembali misalnya saat start. Dengan ini maka energy yang dibutuhkan umtuk menggerakkan Trem ini jauh lebih hemat dari Tram konvensional lainnya.

Trem yang 100% mengandalkan super capacitor ini merupakan yang pertama di dunia dan akan dioperasikan di kota Guangzhou – Tiongkok. Trem kota Guangzhou ini akan melayani rute antara Canton Tower dan Wanshengwei sepanjang 7,7 km dengan 10 halte pemberhentian. Trem ini mampu mengangkut 386 penumpang dengan kecepatan maximum 70 km/jam dan maximum gradient 60‰. Selanjutnya, operator Trem ini juga menyediakan sistem mobile charger untuk menjaga-jaga kalau salah satu sistem charge di halte mengalami kerusakan.

Trem kota Guangzhou ini rencananya akan diresmikan ahir tahun 2014, namun karena satu dan lain hal, rencana peresmian ini sedikit diundur.

Trem Surabaya

Bagaimana dengan Trem Surabaya sendiri? Kalau menengok sejarah, maka kita lihat bahwa kota Surabaya sudah menerapkan Trem listrik di masa lalu. Sebenarnya tidak ada masalah bila kota Surabaya menerapkan Trem listrik yang menggunakan catenary sebagai sumber listriknya. Secara pribadi Penulis berpendapat bahwa pada tahap awal ini yang penting kota Surabaya dapat secepatnya menerapkan moda transportasi masal dengan menggunakan Trem listrik, baik dengan catenary atau tanpa catenary. Toh bagi penumpang kendaraan umum yang penting Trem tersebut bisa ditumpangi dengan aman dan nyaman.

“Ono rego ono rupo” begitu pak Jonan (Menhub) pernah berkata, jadi bagaimana teknologi Trem listrik yang akan diterapkan nanti, semua tergantung besarnya dana yang akan digelontorkan untuk mewujudkan angkutan masal di kota Pahlawan ini.

Trem Surabaya Tempo Doeloe

***

 

About Redaksi MKA

Check Also

tgg

Napak Tilas 143 Tahun Semarang-Tanggung

2010-10-30 18:22:50 Napak Tilas 143 Tahun Semarang-Tanggung Jumat,(29/10) pukul 7 pagi, peron satu Stasiun Semarang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *