Home / Salam KA / Inspirasi & Bisnis / Belajar Kejujuran Dari Siapapun

Belajar Kejujuran Dari Siapapun

Beberapa waktu lalu, saya mendapat email dari seorang ibu yang tinggal di Wanasaba Kidul, Jawa Tengah. D.Nurbaeti Hasyim, begitu ia menyebut dirinya. Informasi yang ditambahkan dia adalah keluarga Pak Tri Haryanto.  Terus terang saya mengerutkan dahi. Saya berusaha membongkar semua file di memori otak, namun tidak berhasil menemukan tautan apapun. Saya menyimpulkan tidak kenal dengan ibu Hasyim dan pak Haryanto ini.
Namun ada yang menarik dari email ibu Hasyim ini. Ia bercerita tentang nilai sebuah kejujuran yang masih ada meski sudah langka. Bahkan dipegang kuat oleh seorang bapak “tukang” rongsokan yang biasa kita cibir, “Wah, tukang rongsokan kok jujur.” Makanya di depan pintu jalan atau gang, kita tulis dengan huruf kapital PEMULUNG DILARANG MASUK!
Meski hanya penggalan cerita, saya juga ingin berbagi kepada Anda walaupun saya juga tidak kenal. Rasanya kita bisa belajar berempati dari siapapun. Termasuk dari tukang rongsokan.
Hari Jumat sekitar pukul sepuluh, ibu Hasyim memulai ceritanya, ia berpapasan dengan seorang bapak “tukang” rongsokan. Merasa di rumahnya banyak yang bisa dijual, ia panggil bapak “tukang” rongsokan tersebut mampir ke rumahnya. Botol-botol bekas campolay, bekas madu, botol aqua, kaleng-kaleng biskuit dan barang-barang plastik yang sudah rusak ia kumpulkan. Ada juga besi bekas kunci serta paku yang telah berkarat. Cukup banyak barang rongsokan yang bisa dikeluarkan bu Hasyim.
Bapak “tukang” rongsokan pun sibuk memilah dan memilih barang-barang rongsokan yang seakan membukit. Waktu si bapak sedang memilih-milih kunci di ember tempat perabot semacam palu dan obeng, bu Hasyim beranjak masuk ke rumah untuk sesuatu keperluan.
Namun langkahnya terhenti karena bapak “tukang” rongsokan memanggilnya. “Ibu jangan masuk dulu! Tolong lihat dulu mana yang boleh saya beli, mana yang tidak!”
“Oh, ya..”, kata bu Hasyim kaget bercampur kagum. Bagimana tidak, biasanya para tukang rongsokan ini justru sering mencari-cari kesempatan lengah penghuni rumah. Ember, baskom atau apa saja yang masih bisa dipakai, langsung saja disikat dimasukan karung. Namun bapak satu ini beda. Justru ia menahan bu Hasyim pergi sementara dia memilah-milah barang.
“Sini tolong Ibu keluar! Tapi jangan ambil apa-apa agar tangan Ibu tidak kotor. Saya hanya ingin Ibu melihat barang apa yang boleh saya beli,” lagi-lagi bapak “tukang”rongsokan menyuruhnya.
“Subhanallah… Bapak ini jujur sekali,” kata bu Hasyim dalam hati sambil menahan rasa merinding.
Ia pun memberanikan bertanya dalam bahasa Cirebonan, “Mamang dari mana?“
“ Saya dari Watubelah, Bu. Mertua saya juga orang Watubelah,” jawabnya sopan.
“Terus mau dijual kemana barang-barang ini?” tanya bu Hasyim mencoba akrab.
“Ke Watubelah.”
“Berapa rata-rata penghasilan sehari, Mang?” tanya bu Hasyim lagi.
“Ya.., tidak pasti, Bu! Kemarin sih saya mendapatkan Rp8.500,-. Lumayan lah, Bu,” jawabnya tanpa menyesal, justru terdengar ada rasa syukur yang terlihat dari binar di wajahnya.
“Hari ini anak-anak tidak berangkat sekolah sebab saya tidak punya uang sangu. Untung anak-anak saya sih idep-idep (menerima dengan lapang dada). Ibunya juga sabar saja punya suami tukang rongsokan,” ceritanya terus meluncur.
“Hah..! Cuma Rp8.500…,” bathin bu Hasyim sesak. Bu Hasyim menyadari banyak orang yang hidup dari barang rongsokan. Jutaan orang pula yang hidup dalam kemiskinan. Akan tetapi orang yang hidup miskin namun tetap jujur itu mungkin yang susah dicari. Sehari-hari tangan bapak “tukang” rongsokan ini kotor karena memungut sampah yang akan dibelinya tapi barang-barang yang akan diambilnya halal dan thoyib. Dia tidak mau mengambil barang yang tidak diikhlaskan pemiliknya, walau barang itu sudah dianggap sampah.
“Pantas anak-anaknya nurut dan istrinya juga taat sebab makanan yang akan dimakannya mendapat ‘seleksi ketat’ tidak asal ambil, tidak asal sikat, walaupun hidup masih serba kekurangan,” gumam bu Hasyim dalam hati.
Bayangkan Rp8.500,-, dikala harga beras Rp7.000,-. Dia terima dan nikmati dengan wajah cerah. Tidak ada keluh kesah. Padahal di luar sana banyak yang hidup bergelimang kemewahan, tetapi dirinya masih tak puas, sehingga segala cara ditempuh untuk memuaskan segala keinginan yang memang tidak pernah ada batasnya. Sudah tidak berfikir halal dan haram, berhak atau tidak. Jauh sekali dengan akhlak bapak “tukang” rongsokan ini yang begitu hati-hati membeli barang, bahkan yang telah menjadi sampah sekalipun.
Satu-persatu barang yang mau dibeli dimasukan kedalam karung. Kaleng-kaleng biskuit diratakan agar tidak memakan tempat. Barang-barang itu siap ditimbang.
“Tidak usah ditimbang lagi, Mang!” kata bu Hasyim.
“Apa? Enggak usah ditimbang, Bu?” tanya bapak “tukang” rongsokan bingung.
“Ya, bawa saja. Memang kalau mau dibeli, mau dibeli berapa?” tanya bu Hasyim menyelidik.
“Enam ribu rupiah…” jawab bapak “tukang” rongsokan setelah mengira-ira.
“Enam ribu ya…,” gumam bu Hasyim menahan napas. “Bawa saja dan ini ada beras sedikit tolong dibawa.”
“Alhamdulillah…Hatur nuwun, Bu!” ujar bapak “tukang” rongsokan sambil mulutnya komat-kamit
“Mang! Kalau Mamang lewat sini lagi, jangan enggak mampir ya! Doakan aku sehat dan keinginanku dikabulkan Allah,” pinta bu Hasyim
“Memangnya ibu ingin apa?” bapak”tukang” rongsongan balik bertanya dengan wajah berseri.
“Saya ingin sawah untuk pesantren.”
“Oh.. ibu punya pesantren.”
Obrolan mereka pun makin gayeng dan sesekali diselingi tawa pelan. Dalam sekejap batin bu Hasyim sudah merasa dekat dengan bapak “tukang” rongsokan tersebut. Bahkan ia merasa menyesal hanya memberinya beras sedikit. Namun bu Hasyim selalu berharap bapak “tukang” rongsokan akan datang lagi, sehingga ia bisa berbagi lagi dengannya. Ternyata di negeri ini masih ada orang yang selurus dan sejujur si Mamang “tukang” rongsokan itu. Semoga Allah mengasihimu, Mang!
“Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran” (QS: Al Ashr ayat 1-3)
Wassalam
Sudjono AF
Wakala GoldenDinar Al Fauzan, Depok, Jawa Barat.

About Redaksi MKA

Check Also

tgg

Napak Tilas 143 Tahun Semarang-Tanggung

2010-10-30 18:22:50 Napak Tilas 143 Tahun Semarang-Tanggung Jumat,(29/10) pukul 7 pagi, peron satu Stasiun Semarang ...

One comment

  1. Assalamu’alaikum wr wb
    Was P Jono lagi potong plontos apa baru pulang
    Umroh Murah atau
    Umroh Desember lalu?
    Wasslam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *