Saturday , September 23 2017
Home / Salam KA / Inspirasi & Bisnis / Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

APA yang terlintas di benak Anda membaca kalimat tersebut? Anda bebas menafsirkannya. Termasuk Anda boleh tidak percaya. Awalnya saya pun begitu. Namun setelah mengalami sendiri, bagi saya kalimat itu layaknya hukum pasti atas kebenarannya. Beberapa kali saya ditumbukkan ke dalam situasai seperti itu dan saya ingin berbagi penggalan-penggalan kisah tersebut.

Tahun 2003 merupakan masa-masa kritis perusahaan kami. Sudah mendekati habis-habisan. Dari sembilan anggota tim pendiri, satu persatu mengundurkan diri. Tinggal kami bertiga yang terus tersuruk-suruk, mendorong roda perusahaan agar terus menggelinding.

“Don’t give up! Jangan menyerah!” ujar bos saat kongko menjelang magrib untuk mengobarkan semangat kami yang terus melorot dan drop melihat kondisi perusahaan. “Saya yakin usaha kita akan segera melewati masa kritis. Saat ini memang sulit tapi saya membayangkan tahun depan usaha kita pasti mulai berkibar,” tambahnya berapi-api. Dia pun bercerita peluang-peluang usaha yang bisa kami raih. Saya mengangguk-angguk saja, meski sebenarnya hanya sebagian kecil paham, alias tidak yakin. Padahal waktu itu masih bulan Mei. Berarti perlu waktu tujuh bulan lagi untuk berganti tahun.

Ada dua pilihan yang sama-sama sulit. Menutup usaha dan bye..bye atau berusaha mendorong roda usaha dengan memangkas gaji besar-besaran hingga 50% di seluruh lini. Sementara bos saya tetap optimis tahun depan usaha ini mulai jalan. Kami pun nego dengan seluruh karyawan, sekitar 40-an orang. Dengan berkaca-kaca saya (waktu itu didapuk sebagai direktur opersional dan HRD) menyampaikan berita yang sangat tidak mengenakkan hati ini. Alhamdulillah… sebagian besar karyawan memilih opsi kedua sehingga membuat hati ini trenyuh. Sebelum berpisah, saya meminta kepada temen-temen untuk mengajak keluarganya turut berdoa agar kami segera keluar dari situasi sulit ini.

Usai acara antara sedih dan gembira tersebut saya segera menemui bos untuk mengutarakan kemasgulan hati. “Pak! Sungguh saya sangat trenyuh melihat teman-teman di lapangan juga tetap optimis dan berani memilih opsi kedua. Bolehkah saya mengajukan usul?”

Big bos saya tampaknya memahami kegundahan hati saya. “Ya.., silakan!” jawabnya pelan.

“Mohon dipertimbangkan, Pak! Meskipun teman-teman setuju gajinya dipotong 50%. Harap dipertimbangkan yang dipotong tidaklah hilang, tetapi merupakan hutang perusahaan. Suatu saat nanti bila kondisi perusahaan sudah bagus, akan dibayarkan lunas. Anggap sebagai imbal balik perusahaan atas kesetiaan teman-teman,”  ujar saya dengan nada gemetar. Uraian saya pun panjang lebar untuk mengingatkan komitmen perusahaan.

Dia hanya mendengarkan, tanpa menyela uraian saya sama sekali. Saya jadi dag dig dug. Jangan-jangan saya malah dipecat. Tetapi saya sudah iklas. Saya sudah menyampaikan hati nurani, demi keadilan hubungan antara karyawan dan perusahaan.

Setelah agak lama saling diam, dia memecah keheningan. “Om.., saya setuju dengan pemikiran itu. Semua potongan akan saya anggap hutang perusahaan. Bila tahun depan perusahaan kita mulai jalan lancar, semua akan saya bayar lunas. Bahkan bila memungkinkan akan saya tambah bonus,” jelasnya dengan sungguh-sungguh dan meyakinkan.

Plong! Hati ini bahagia banget. Bos saya teryata memiliki hati. Tidak sekedar bisnis ala Yahudi, yang mau untung sendiri. Saya pun rela gaji saya dipotong 75% sehingga gaji yang saya terima seolah hanya tunjangan untuk transpor saja. Saya tambah bersyukur, isteri di rumah menerima dengan lapang dada dan memahami situasi dan kondisi perusahaan saya.

Perlahan keyakinan saya terus merekah setelah di rumah secara kebetulan saya membaca Juz Amma milik putri saya. “Maka sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan. Sesunggunya di balik kesulitan ada kemudahan ” QS Al-Insyiroh(94); 5-6. Saya merenung membaca ayat ini dan menganalogikan dengan kondisi perusahaan saya. “Inikah titik balik itu?” pikir saya menerawang jauh.

Dibalik kesulitan ada kemudahan. Seolah dua kata ini bagai dua sisi mata uang. Begitu dekatnya satu sama lain. Bila kita mampu sampai titik tepi kesulitan itu, sama dengan kita melangkah ke arah kemudahan. Sesederhana itukah? Jawabnya, ya! Itulah yang kami alami.

Menjelang akhir tahun 2004, bersamaan dengan libur besar Hari Raya Idul Fitri dan Natalan, media perusahaan kami kebanjiran order iklan. Sungguh, inilah titik balik itu. Senyum kami semua merekah karena menerima rapelan potongan gaji selama enam bulan. Artinya bulan itu kami menerima gaji sama dengan empat bulan gaji penuh. Bagaikan bethok (buka) celengan rasanya. Suara tawa terdengar di setiap sudut meja kantor dan temen-temen di lapangan. Apalagi ditambah keputusan perusahaan yang memberi kenaikkan gaji 10% kepada seluruh karyawan. Sunguh luar biasa.

Saya tak putus-putusnya bersyukur waktu itu. Selain karena rasa bahagia melihat senyum dan wajah sumringah temen-temen, juga karena saya dapat jatah bonus juga. Saya merenung: Inilah janji Allah Yang Maha Pemurah itu, atas doa-doa kami. Doa yang kami panjatkan dengan penuh keyakinan dan penuh pengharapan bersama seluruh keluarga. Saya teringat tausiah salah seorang ustadz di suatu majelis: Allah akan membuka password dana hibah Bank Langitan dalam situasi dan waktu yang tepat karena Allah Maha Mengetahui, Maha Kaya dan Maha Menepati Janji.

“Ya Allah, terima kasih telah Engkau anugerahkan rejeki berlimpah ini. Sungguh! Inilah rejeki yang Engkau janjikan, yang tidak kami sangka-sangka. Tetapi Engkau telah mengaturnya…” doa saya panjang dengan hati yang membuncah.

Bank Langitan, siapa yang mau mengetuknya dengan sungguh-sungguh maka dana hibahnya akan mengucur sederas keinginan, sebanyak harapan dan sebesar niat kita. Di tahun berikutnya, kesyukuran dan kebahagiaan itu bertambah-tambah karena sungguh keajaiban itu datang lagi dan datang lagi.

Benar. “Maka sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah (urusan yang lain) dengan sungguh- sungguh. Dan hanya kepada Tuhanmu hendaklah engkau berharap.” (QS: Al-Insyiroh(94); 5-8)

 

Wassalam,

 

Sudjono AF

Wakala GoldenDinar al Fauzan, Depok Jawa Barat.

Website: www.MajalahKA.com; www.MajalahKA-Shop.com; www.IndonesiaTrain.com

Email: [email protected]

 

About Redaksi MKA

Check Also

tgg

Napak Tilas 143 Tahun Semarang-Tanggung

2010-10-30 18:22:50 Napak Tilas 143 Tahun Semarang-Tanggung Jumat,(29/10) pukul 7 pagi, peron satu Stasiun Semarang ...

One comment

  1. sangat menyentuh dan menginspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *