Thursday , December 14 2017
Home / Uncategorized / Museum Ambarawa: Naik Kereta Rel Bergerigi

Museum Ambarawa: Naik Kereta Rel Bergerigi

Railways Mountain Tour
Perjalanan wisata bernama Railways Mountain Tour dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Bedono sejauh 9,5 km memakan waktu sekitar satu jam.

Majalah Ka, Sepanjang perjalanan, selain nuansa berkereta kuno, anda dapat sepuasnya menikmati pemandangan pegunungan yang menawan. Hamparan Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu menjadi latar belakang yang mempesona.. “Bukan naik keretanya yang kami unggulkan, tapi nilai historis dan kealamiannya,” kata Sudono. Kepala Stasiun Ambarawa, Jawa Tengah, berpromosi.

Uniknya, pada jalur Stasiun Jambu—Stasiun Bedono posisi lokomotif diubah. Bila sebelumnya ada di depan, maka posisi lokomotif kini ada di belakang. Jadi kereta api bukan ditarik lokomotif, melainkan didorong oleh lokomotif karena jalan sudah mulai menanjak. Jalur Stasiun Jambu-Stasiun Bedono ini berada di ketinggian 711 meter di atas permukaan air laut. Sedangkan Ambarawa 474 meter di atas permukaan laut.

Karena letaknya yang cukup tinggi inilah di sepanjang jalur Stasiun Jambu-Stasiun Bedono diapasang rel bergerigi di tengahya. Fungsinya adalah untuk menahan agar kereta marnpu terus mendaki di jalur yang menanjak tajam. Rel di jalur ini menjadi rel gerigi satu-satunya di Indonesia yang hingga sekarang masih dioperasikan. Selain di jalur Jambu-Bedono, rel bergerigi juga terdapat di Bukit Tinggi. Tetapi di Kota Ngarai Sihanok, Sumatra Barat ini, rel bergerigi sudah tidak difungsikan.

Ketel Uap, Bahan Bakar Kayu

Jalur Rel Gerigi
Memasuki wilayah dengan kemiringan tinggi (menanjak), lokomotif pindah haluan ke belakang untuk mendorong kereta.

Uniknya lagi, kereta berloko uap ini tidak berbahan bakar sembarang. Bahan bakarnya harus kayu jati. Dalam satu rute perjalanan Stasiun Ambarawa-Stasiun Jambu-Stasiun Bedono pulang-pergi dibutuhkan kayu jati sebanyak dua meter kubik.

Kayu jati ini dipakai untuk memanaskan 2.850 liter air. Dan uap air tersebut yang dipakai sebagai tenaga penggerak roda-roda lokomotif. Sebelum berangkat, ketel air untuk menghasilkan tekanan uap yang besar, harus terlebih dahulu dipanaskan, sekurangnya tiga jam lamanya.

Kereta Api dengan lokomotif bergigi ini memang kuno dan langka. Lokomotifnya saja telah berusia 104 tahun (buatan Belanda tahun 1902). Sementara dua kereta penumpangnya yang sebagaian besar berbahan kayu jati, dibuat lima tahun lebih muda.

Lebih Murah Rombongan

Untuk satu perjalanan Ambarawa-Bedono pp tarif KA berkapasitas 80-100 penumpang ini adalah Rp3,5 juta. Tidak heran kalau KA ini hanya beroperasi jika ada pesanan dari pengunjung. Jadi, kalau anda ingin mencoba menikmati panorama pegunungan yang indah dengan kereta kuno ini disarankan datang secara rombongan. Dan tentunya dengan melakukan reservasi atau pesan terlebih dulu ke Museum Kereta Api Ambarawa.”Ya, lebih baik jauh-jauh hari atau jika mendesak paling tidak tiga jam menunggu ketel uap dipanaskan dahulu,” jelas Sudono.

Menurut data yang dimiliki Sudono, terdapat grafik peningkatan dalam pengoperasian kereta wisata ini dari tahun ke tahun. Misalnya dari 212 kali perjalanan pada 2004, menjadi 221 pada 2005. Sedangkan pada 2006 hingga akhir Juni ini sudah mencapai 84 perjalanan.

Dibangun 1873

Pada masa penjajahan Hindia Belanda. kota Ambarawa merupakan daerah basis militer. Itulah sebabnya Raja Willem 1 berkeinginan untuk membuka jalur kereta api, guna memudahkan mengangkut pasukan menuju Semarang. Maka tanggal 21 Mei 1873. dibangunlah Stasiun Kereta Api di Ambarawa seluas 127,5 meter persegi. Stasiun ini diberi nama Stasiun Willem I.

Selama masa kemerdekaan jalur kereta api jurusan Ambarawa-Kedungjati-Sernarang terus difungsikan untuk angkutan penumpang. Begitu pun jurusan Ambarawa-Secang-Magelang, dan jalur Ambarawa-Parakan-Temanggung. Namun tahun 1976 jaluri tersebut ditutup.

Dua Loko
Lintasan tanjakan dari Stasiun Jambu diantisipasi dengan dua lokomotif (foto: dok. www.internationalsteam.co.uk).

Railways Mountain Tour ini adalah salah satu obyek wisata unggulan dari museum yang terletak sekitar 40 km dari Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Di museum, pengunjung diajak memasuki kehidupan stasiun tempo doeloe, pada masa zaman Belanda, sekitar 133 tahun lalu. Bangunannya masih kokoh, lantai, ornament, dan aksesoris model lama juga masih terpelihara.”Bahkan para penjaga stasiun, masinis, dan awak kereta skap menggunakan seragam ala Belanda, bila ada pesanan,” tutur Sudono.

Untuk memasuki stasiun kuno ini pengunjung cukup membayar Rp3.000, dan Rp2.000 untuk anak-anak. Stasiun Willem 1 ini, diresmikan menjadi Museum Kereta Api Ambarawa oleh Menteri Perhubungan, Roesmin Noerjadin pada 21 April 1978.

Di museum ini anda dapat melihat barang-barang peralatan kereta api tempo dulu yang unik dan antik. Ada mesin ketik manual, pesawat telepon ongkel, pesawat telegram morse, aneka stempel kereta api, amblem penjual asongan, wesel tangan, meja kursi dan almari kuno. Ada juga rak-rak karcis dan alat pelubang karcis diloket penjualan zaman dulu. Genta penjaga masih dapat difungsikan dengan baik. “Mebel dan jam dindingnya sudah sangat tua, tapi masih berfungsi,” tutur Sudono bangga.

Pada alih fungsi stasiun ini menjadi museum pada tahun 1976, maka dikumpulkanlah beberapa lokomotif yang ada di Ambarawa yang peranannya sudah tergantikan dengan lokomotif diesel berbahan bakar solar.

Ada 21 buah lokomotif yang dipajang di depan stasiun. Loko-loko yang ada sebagian besar buatan Jerman dari perusahaan Hartmann Chemnitz, Hanomag Hannover, Sachisctk MF Chernilics, Hartmann Chemnits, Hanshel Shassel. Beberapa buatan Belanda dari perusahaan Werk Spoor Amstcrdam, dan Bayer Peacock Manchester Amsterdam.

Loko paling kecil seri BB 2014 dengan panjang hanya 5,790 m. Sedang loko terpanjang adalah seri CC 5029. Panjangnya mencapai 19.902 m, buatan tahun 1928 dari Wintherchur Scheweis. Loko ini berkuatan 1190 tenaga kuda. Juga ada seri B 5112 yang panjangnya 14,282 m, buatan Hanomag Hannover tahun 1900. Bisa dibayangkan betapa gagahnya loko ini dimasa lalu. “Kami masih punya 3 buah lokomotif uap yang bisa dioperasikan.” kata Sudono yang pada 4 Juli 2006 ini posisinya akan ditempati Harjono.

Lori Wisata

Selain dengan kereta bergerigi ini, pengunjung juga dapat berkeliling dengan Lori Wisata dengan kereta loko bermesin Kijang tahun 1970 dan Mitsubishi L 300. Untuk menumpang kereta lucu ini, pengunjung hanya dikenai biaya Rp10.000.- perorang. Dalam perjalanan Lori Wisata selama kurang lebih satu jam ini pengunjung akan menyaksikan kesibukan nelayan pencari ikan di danau Rawapening nan indah, serta hijaunya pegunungan Telomoyo dan Merbabu.

  • M. YANUARKA, SUDJONO AF

 

Sumber: Majalah Ka, Edisi 01/Agustus 2006, “Masa-masa Jaya Kereta Api”; PT Ilalang Sakti Komunikasi

About Redaksi MKA

Check Also

Awas! Hati Hati Hp Anda

Majalah Ka, Edy Sobari, wajahnya tampak kuyu sepulang dari Manggarai, Jakarta. “Hp saya kecopetan lagi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *