Saturday , September 23 2017
Home / Uncategorized / Penjaga Perlintasan: Kalau Menerobos Makan Hati

Penjaga Perlintasan: Kalau Menerobos Makan Hati

Perlinatasan Kereta
Perlinatasan Kereta

Majalah Ka, Ting tong, lampu di sebuah kotak dalam bangunan kecil berkedip-kedip. Dengan sigap, Sunan Ari Ruskandar (29) memencet tombol di samping lampu tersebut dan menurunkan palang pintu untuk menghentikan pengguna jalan raya agar tak melalui perlintasan kereta. Beberapa orang masih terlihat cuek melewati palang. Bahkan terlihat seorang pengendara motor mengangkat palang agar dapat melintasi perlintasan yang sudah meraung-raung tanda larangan melintas. Tidak lama, sebuah kereta barang dari arah Timur.

“Ginilah, Mas, keadaannya. Kalau kenapa-kenapa, kan kita juga yang kena,” keluh Sunan yang sedang dapat giliran jaga dari pukul satu siang hingga tujuh malarn. Pria tamatan SMP ini merupakan satu dari 12 petugas penjaga lintasan di tiga pintu perlintasan KA Cikampek. Menurut Sunan, kondisi tersebut masih lebih baik dibanding ketika dirinya menjaga perlintasan di Tambun tiga bulan yang lalu. “Wah, kalau di Bekasi kita sering makan hati, malah bcbcrapa kali kita pernah adu fisik,” cerita pria dengan satu putra ini.

Dijaga 24 Jam

Pos perlintasan yang dijaga Sunan berjarak sekitar 300 meter arah Timur dari Stasiun Cikampek, tepatnya di Jl Ahmad Yani. Jalur Stasiun Cikampek ke arah Timur terbagi menjadi dua jalur double track. Satu jalur menuju Surabaya dan satu jalur lain menuju Bandung. Sunan menjaga pintu perlintasan menuju Surabaya. Sedang pintu perlintasan menuju Bandung dijaga Ono Bin Encon.

Tercatat, 92 perjalanan kereta api melalui perlintasan yang dijaga Sunan. Mulai dari Kereta Kutojaya yang melintas pukul 00.09, hingga Purwojaya pada 23.57. Jadi, pintu perlintasan ini harus dijaga 24 jam dengan pembagian 3 shif “Dua hari sekali kita rolling tempat dan jam jaga” kata Sunan.

Sedangkan jalur perlintasan yang dijaga Ono dimulai oleh kereta barang Gudang Bandung-Tanjung Priok pada pukul 00.00 dan KA Panhyangan Gambir-Bandung pada 23.20.

Ono yang ditemui di dalam posnya yang terletak sekitar 50 meter di beeelakang pos yang di jaga Sunan, memakai prinsip beramal dalarn menjalankan tugasnya.”Itung-itung nolong orang lah, Mas,” kata kakek bercucu empat ini.

Dibanding Sunan, Ono jauh lebih pengalaman dalam menjaga palang pintu ini. Beratnya menarik gambang (palang yang terbuat dari bambu) pernah dirasakan bapak yang lahir di Karawang 51 tahun yang lalu ini.

Mengenai kecelakan di pintu perlintasan yang dijaganya, Ono mengaku sudah lupa.”Terakhir dua bulan yang lalu, suami-istri naik motor tertabrak Kereta Gunung Jati.” kata Ono mencoba mengingat-ingat. Dalam kasus ini, petugas PJL tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Kerap kali petugas sudah menutup pintu, tapi pengguna jalan masih nekad menerobos. Berbeda halnya jika si petugas lalai menutup pintu.

“Sekarang pos makin banyak, tapi toiletnya dikit,” keluh Ono. “Kalo saya kebelet, saya tukeran tempat sama Pak Ono yang ada WCnya,” potong Sunan yang datang ke posnya Ono untuk buang air. Juga jangan berharap disuguhi minuman atau makanan bila berkunjung ke Pos PJL “Kita keseringan bawa bekal dari rumah, kalo enggak ngutang di warung sebelah,” sungut Sunan lagi.

Suara berisik Argo Gede rnenuju Bandung menghentikan obrolan Majalah “ka”. Prit… priit, Ono membunyikan peluit memperingatkan para pengguna jalan agar sabar menunggu kereta hingga lewat. “Sering-seringlah PT Kereta Api ngasih diklat biar kita ‘agak’ pinteran.” pesan Ono yang mengaku baru sekali mendapat diklat ketika Majalah “ka” akan pamic. •M. Yanuarka

Sumber: Majalah Ka, Edisi 01/Agustus 2006, “Masa-masa Jaya Kereta Api”; PT Ilalang Sakti Komunikasi

About Redaksi MKA

Check Also

Museum Ambarawa: Naik Kereta Rel Bergerigi

Majalah Ka, Sepanjang perjalanan, selain nuansa berkereta kuno, anda dapat sepuasnya menikmati pemandangan pegunungan yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *