Saturday , September 23 2017
Home / Uncategorized / STASIUN SUKABUMI : Menunggu Kereta Yang Tak Pernah Lewat

STASIUN SUKABUMI : Menunggu Kereta Yang Tak Pernah Lewat

Stasiun Sukabumi
Stasiun ini bak gadis bersolek yang menunggu sang pacar yang tak pernah datang

Majalah Ka, Menjelang siang, suasana Stasiun Sukabumi sangat lengang. Maklum,sejak pertengahan Maret 2006, jalur kereta api Bogor-Sukabumi ditutup. Meski stasiun ini tutup, aktifitas pegawai stasiun tak ikut terhenti. Kepala Stasiun, M. Budi Mulyana bersama Masrun tetap berseragam untuk mengontrol dan merawat lingkungan stasiun.

Stasiun yang dibangun sekitar 1882 ini masih terlihat kokoh dan kuat. Sebagian bangunan belum berubah dari bentuk aslinya. Seperti jendela, pintu, tiang-tiang penyangga, dan lantai kayu ruang PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api).

Didalam ruangan PPKA ini, barang-barang zaman Belanda masih apik tertata meski sebagian tak berfungsi. Ada alat pengatur perlintasan, bel genta, dan kode morse.Pada pintu masuk stasiun, berdiri jam dinding kuno berwarna coklat yang masih aktif. Jam dinding lainnya ada di pintu keluar stasiun. Benda lain peninggalan Belanda adalah tangki air yang dulu berfungsi untuk mengisi air pada mesin kereta api.

Umur rel bisa jadi seumur stasiunnya.”Kondisi relnya memprihatinkan. Seharusnya tidak layak untuk digunakan lagi. Sangat riskan.” jelas Budi Mulyana.

“Dulu ada 9 treck jalur kereta api disini. Sekarang yang tersisa tinggal 2 saja” tambah Masrun yang sudah bekerja sejak 1978.  Menurut Budi, dulu KRD Sukabumi-Bogor melintas tiga kali sehari. Selanjutnya tinggal sekali. “Dan kini diberhentikan,” tuturnya.

ironis memang, melihat kondisi stasiun yang terawat tapi gak ada kereta api lewat. Malah kereta api yang satu-satunya lewat sekarang tidak dapat dioperasikan karena rusak pada kecelakaan pertengahan Maret 2006. Kecelakaan itu terjadi akibat kondisi kereta api yang sudah tua dan mengangkut beban yang berat.

“Setiap hari ada saja masyarakat yang menanyakan kapan KRD dapat beroperasi lagi” ujar Kepala Stasiun dengan tujuh karyawan ini. Menururnya, disaat KRD masih ada, banyak pedagang yang membawa barang dagangan untuk dijual ke Bogor, bahkan sampai Jakarta. Dengan tidak beroperasinya kereta, jelas menambah beban biaya. “Ongkos yang tadinya cuma Rp1.500,-  naik KRD, bisa menjadi Rp9.000.- menggunakan bus,” tambahnya.

Kondisi ini, membuat DPRD Kota Sukabumi berjuang mengupayakan perbaikan. “Daopl  Jakarta, Pemda dan DPRD perlu menyelesaikan masalah ini satu meja,” ujar Fahmi, anggota Komisi C yang ditemui di Hotel Harris Jakarta. Menurutnya perbaikan sarana dan prasarana harus sesegera mungkin dilakukan. “Saya optimis jalur kereta Sukabumi-Bogor dapat dikembangkan,” tambah M. Irwan Setiawan yang juga anggota Komisi C.

Beroperasi sejak 1881

Jalur kereta api Bogor-Sukabumi dibangun Spoorwagen Westelijnen, perusahaan pemerintah Hindia Belanda tahun 1881, melewati Cicurug dan Cibadak. Jalur ini terus tersambung ke Padalarang, Bandung, hingga Cicalengka pada 1884. Meski sejak 1894, Jakarta-Yogyakarta sudah ada jalur kereta api, tapi jalur kereta Bogor-Sukabumi adalah jalur penyambung kedua kota itu. Jadi warga Batavia kala itu, harus ke naik kereta Bogor dulu, lewat Sukabumi terus ke Yogyakarta melewati jalur selatan. • HENNY PUSPITASARI

Sumber: Majalah Ka, Edisi 01/Agustus 2006, “Masa-masa Jaya Kereta Api”; PT Ilalang Sakti Komunikasi

Jalur Bogor-Sukabumi, Stasiun Sukabumi, Hotel Harris Jakarta, Padalarang, Bandung, Cicalengka

About Redaksi MKA

Check Also

Museum Ambarawa: Naik Kereta Rel Bergerigi

Majalah Ka, Sepanjang perjalanan, selain nuansa berkereta kuno, anda dapat sepuasnya menikmati pemandangan pegunungan yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *