Wednesday , December 13 2017
Home / Hot News / Tidak Penuhi Syarat, Metromini Harus Dilarang Beroperasi

Tidak Penuhi Syarat, Metromini Harus Dilarang Beroperasi

PMI DKI Jakarta turun tangan membantu mengevakuasi korban meninggal maupun luka akibat kecelakaan Metromini dengan KRL di perlintasan sebidang dekat Stasiun Angke. (Dok. PMI DKI Jakarta)
PMI DKI Jakarta turun tangan membantu mengevakuasi korban meninggal maupun luka akibat kecelakaan Metromini dengan KRL di perlintasan sebidang dekat Stasiun Angke. (Dok. PMI DKI Jakarta)

Seperti diberitakan, Minggu (6/12/2015) telah terjadi kecelakaan lalulintas di perlintasan sebidang Tubagus Angke antara bus metromini B80 jurusan Kota-Kalideres bernomor polisi B7060FD dengan KRL Commuter Line jurusan Jatinegara-Bogor. Bus Metromini menerobos palang pintu perlintasan yang sudah ditutup hingga tertabrak kereta rel listrik (KRL) dan terseret hingga emplasemen Stasiun Angke, Tambora, Jakarta Barat. Dalam peristiwa tersebut, puluhan penumpang tewas dan beberapa luka-luka.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Muhammad Iqbal mengatakan, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 08.30 WIB. Dari keterangan saksi kepada Polisi, bus Metromini menerobos palang pintu melalui celah sisi kanan karena panjang palang pintu yang tidak menutup hingga ujung.

“Saksi melihat kereta api sudah berada di jembatan sekitar 50 meter dari palang pintu kereta. Saksi sempat berteriak, tetapi sopir metromini tidak menghiraukan. Saksi langsung melihat Metromini tersebut tertabrak pada bagian samping sebelah kanan,” ujar Iqbal.

 

Harus Memenuhi 4 Syarat

Atas peristiwa memilukan tersebut, Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno meminta regulator untuk tidak memberi toleransi operasi buat Metromini yang tidak memenuhi syarat sebagai angkutan umum.

Menurut Djoko, ada 4 aspek untuk memenuhi kriteria perusahaan angkutan umum yang ideal, sehat dan dinamis. Yaitu: Aspek Administrasi (Berbadan hukum bisa perseroan terbatas atau koperasi, dan menerapkan sistem gaji bagi awak kendaraan, khusunya pengemudi); Aspek Teknis (Memiliki kendaraan dengan umur kendaraan relatif muda demi keselamatan umum di perjalanan);

Aspek Operasional (Memiliki kepastian jadwal perjalanan yang tetap; menerapkan teknologi informasi seperti sistem tiket dan bagasi, manifest penumpang, maupun pemanfaatan fasilitas GPS/CCTV dalam pengawasan operasional; berperan sebagai mitra pelayanan masyarakat yang baik, adanya hubungan yang baik antara perusahaan dan penumpang; bekerjasama antara pengusaha angkutan, sehingga dapat bersaing dalam peningkatan kualitas pelayanan); dan Aspek SDM (Mempersiapkan dan merencanakan regenerasi perusahaan dan tidak mudah terprovokasi kondisi lapangan, terutama yang disebabkan oleh awak kendaraan).

“Kalau tidak memenuhi syarat, jangan ditolerir untuk beroperasi,” kata Djoko. (AMS)

About Redaksi MKA

Check Also

Lama Dinanti, Akhirnya KRL Jakarta Kota – Tanjungpriok Beroperasi

Lintas Jakarta Kota-Tanjungpriok sejak tahun 2007 sudah diwacanakan untuk beroperasi. Saat itu, bahkan telah diawali ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *