Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 43, Februari 2010
TERSENYUM LAH ! Anda Ada di Stasiun KA 2010-02-04 16:10:35 Oleh: Mas Soegeng
Setiap
kali naik kereta, pemandangan menyebalkan pertama yang senantiasa menumbuk mata
kita adalah wajah-wajah kaku, keras dan bisu. Wajah yang menunjukkan beban
berat dengan berbagai persoalan. Bahkan wajah dengan kecenderung stress. Wajah itu – celakanya - bukan hanya milik
penumpang kereta, tapi juga wajah-wajah petugas ka yang seharusnya menunjukkan
wajah pelayanan yang ramah.
Perhatikan
saja, setiap orang masuk stasiun, selalu terburu-buru seakan ketakutan akan
ditinggalkan kereta api. Sampai di loket, mereka tega menyerobot antrian atau
berusaha agar selalu terdepan di loket karena tak ingin (seolah-olah) kehabisan
tiket. Di sinilah awal petaka perjalanan bernama stress atau wajah-wajah
berbeban berat itu. Maka, ketika suasana itu ditambah wajah kaku petugas ka;
mahal senyum, pelit bicara, lengkap sudah etalase wajah-wajah tak mengenakkan
di stasiun ka.
Begitu
kereta akan sampai, semua orang berebut berdiri di pinggir sepur (tempat kereta
berhenti) dan berdiri paling depan, seakan tak mau didahului orang lain. Begitu
pintu kereta terbuka, yang keluar kereta dan yang masuk saling berebut,
berdesak, sikut menyikut, karena ketakutan tidak memperoleh tempat duduk.
Semuanya dilakukan dengan wajah tegang, kaku dan tanpa tersenyum.
Selama
sepuluh tahun naik kereta api (termasuk berada di stasiun) saya belum melihat
stasiun mampu memberi kenyamanan bagi penumpangnya karena wajah-wajah kurang
bersahabat tersebut. Saya tak tahu, kemana julukan smiling people yang ditujukan pada orang Indonesia selama berabad-abad.
Jauh
berbeda ketika naik MRT (Mass Rapit Transit) di Singapura. Orang-orang begitu santai, nyaman dan aman,
meski setiap orang terburu-buru namun wajah-wajah mereka tampak santai sehingga
suasana menjadi nyaman dan damai.Orang-orang yang berada di stasiun, yang naik
kereta, tampak santai, baca buku, ber-sms ria, ngobrol, dengan wajah yang enak
dipandang.Suasana seperti itu juga
tampak ketika mereka naik bus kota.
Semua orang tampak santai, nyaman, enak dipandang. Tanpa gembar-gembor,
keselamatan, keamanan dan kenyamanan benar-benar di perhatikan sampai detil.
Yang paling menonjol dari
kondisi itu adalah betapa disiplinnya masyarakat yang naik kereta atau bus
karena sistem pemerintahannya yang tegas dan teratur, meski jarang sekali
terlihat polisi atau petugas. Semuanya serba otomatis, serba mandiri.
Pencet
stasiun tujuan yang ada di layar, masukkan $S 2,80 dan anda dapat tiket, lalu
menuju sepur tujuan. Begitu kereta datang, pintu terbuka, tunggu penumpang yang
turun, baru anda masuk. Setiap stasiun pemberhentian diumumkan lewat pengeras
suara dan layar monitor di setiap gerbong. Sampai tujuan, sebelum keluar
stasiun, masukkan tiket ke mesin dan anda dapat kembalian $S 1.
Proses
seperti itu mereka taati, dan mereka menghormati (bukan takut) hukum karena mereka
tak mau susah terkena sangsi hukum. Itu tersirat dari begitu banyaknya
rambu-rambu, sosialisasi-sosialisasidan
juga himbauan-himbauan yang bersifat penyadaran hidup bersama orang lain.
Kamera ada di mana-mana, begitu anda berbuat curang atau tak disiplin, polisi
baru muncul dan menindak anda. Maka, pamflet, poster, rambu dan petunjuk di
kereta api maupun di bus, sungguh ditaati masyarakatnya.
Di
setiap bus, misalnya, kita disuguhi sebuah poster yang menggelitik berbunyi : JADILAH ORANG YANG BAIK HATI. Perjalanan
yang membahagiakan dimulai seperti ini;Beri tempat buat orang lain ( bergeserlah). Beri tempat duduk anda
(kepada orang yang lebih membutuhkan). Biarkan orang lain turunterlebih dahulu ( jangan tergesa-gesa).
Apa
yang termuat dalam sosialisasi yang diciptakan pengelola transportasi itu
benar-benar dituruti oleh hampir semua orang Singapura. Termasuk bagi mereka
yang datang ke Singapore
karena sistem memaksa seperti itu. Dimana-mana ada tulisan, petunjuk, rambu dan
peta. Di dalam kereta ( MRT) juga ada tulisan : Be considerate ! Give up this seat to a passenger with special needs
(Toleransilah ! Berikan tempat duduk ini pada penumpang dengan kebutuhan
khusus). Di bawahnya, persis yang ada di KRL Jabodetabek); ada gambar hitam putih (siluet) orangtua
memakai tongkat, ibu hamil dan ibu membawa anak bayi).
Penumpang
kereta di sana
benar-benar enggan duduk di tempat itu, jika tak benar-benar kosong. Kalau
mereka melihat kondisi penumpang lain seperti di gambar himbauan (orang tua,
wanita hamil, orang cacat) serta merta memberikan kursi itu kepada yang lebih
berhak sesuai bunyi tanda-tanda itu.
Dan
mereka – penumpang di sana
- tak ada yang pura-pura tidur atau sibuk baca koran jika ada orang-orang
dengan kriteria di atas. Mereka segera bangkit dan memberikan tempat itu kepada
mereka sambil tersenyum santai. Di hampir sudut ada petunjuk, maklumat dan
himbauan yang tidak terlalu kaku. Di pintu sepur sebelum pintu kereta terbuka,
ada poster sebesar pintu dengan bintang iklan seorang nenek dengan kaca mata
dan bergaya lucu dengan tulisan besar untuk mengingatkan agar waspada di
sekitar kereta dengan tulisan besar-besaran: Don’t Play, Play. Maksudnya Tidak
atau Jangan Main-Main. Di bawahnya
ditulisin himbauan agar penumpang yang mau turun didahulukan, baru penumpang
yang naik. Ini kata kunci yang dasyat sehingga setiap penumpang akan
mengingatnya, dan setiap orang harus antri teratur dan naik kereta setelah
penumpang turun.
Banyak
rambu-rambu dan maklumat dibuat dalam empat bahasa : Inggris,
China, Melayu dan India
yang mewakili penduduk mayoritas di Singapura. Banyaknya rambu, tanda atau
himbauan itu menjadi sosialisasi yang dasyat. Bukan saja mesin, komputer atau
pintu yang serba otomatis. Penumpang juga secara otomatis mengikuti dan patuh
pada petunjuk-petunjuk itu.
MRT
benar-benar telah menjadi tulang punggung sistem transportasi di Singapura.
Padahal sistem perkeretaapian diSingapura,
baru dimulai tahun 1987 dengan dibukanya jalur Yio Chu
dan Toa Payah. Meski konsep MRT metro Singapore ini lahir setelah MRT
Manila, Singapura mampu menunjukkan keunggulannya karena komitmen pemerintah
dan kedisiplinan warganya. Kalau di Indonesia, kereta api masih menjadi istilah
tulang punggung transportasi nasional, di Singapura benar-benar telah menjadi
tulang punggung yang amat sistimatik.
Di sana,
tiap hari, kereta mengangkut 1.435 juta penumpang yang hilir mudik di 74
stasiun sepanjang 109.4 kilometer dengan kereta yang selalu datang setiap 5 menit
!Bahkan diam-diam, Singapura juga telah
melengkapi akses kereta dari dan ke Bandara Changi sejak Februari 2002. Ada
21 kereta listrik seri 751B yang beroperasi di sana yang memiliki total 126 kereta.
Sepertinya
pemerintah Singapura telah memiliki blue print dan aturan perkeretaapian yang
jelas, transparan, sehingga ketika sistim itu diterapkan, pemerintah tinggal
mengawasi lewat kamera yang ada di setiap sudut Singapura dan warga yang
disiplin tinggal mematuhinya. Ketika keduanya komit melakukan pengawasan dan
disiplin, yang terlihat di stasiun
kereta adalah wajah-wajah yang santai, wajah yang menyenangkan. Saya pun bisa
tersenyum lega berkata:Sungguh, naik
keretaapi begitu nyaman, aman dan menyenangkan…… di Singapura !!