Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor Rabu, 8 September 2010
Katalog Majalah
Katalog Buku
Berlangganan Majalah
Pasang Iklan
Galeri
Berita Terbaru
Kumpulan Artikel
Kontak Kami
Catatan Pinggir Rel

07 June 2010
Perempuan Yang Berjalan Di Atas Rel
Oleh: Mas Soegeng
Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 47, Juni 2010 »»»

Thumbnail Gallery
Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 43, Februari 2010
TERSENYUM LAH ! Anda Ada di Stasiun KA
2010-02-04 16:10:35
Oleh: Mas Soegeng

Setiap kali naik kereta, pemandangan menyebalkan pertama yang senantiasa menumbuk mata kita adalah wajah-wajah kaku, keras dan bisu. Wajah yang menunjukkan beban berat dengan berbagai persoalan. Bahkan wajah dengan kecenderung stress.  Wajah itu – celakanya - bukan hanya milik penumpang kereta, tapi juga wajah-wajah petugas ka yang seharusnya menunjukkan wajah pelayanan yang ramah.

Perhatikan saja, setiap orang masuk stasiun, selalu terburu-buru seakan ketakutan akan ditinggalkan kereta api. Sampai di loket, mereka tega menyerobot antrian atau berusaha agar selalu terdepan di loket karena tak ingin (seolah-olah) kehabisan tiket. Di sinilah awal petaka perjalanan bernama stress atau wajah-wajah berbeban berat itu. Maka, ketika suasana itu ditambah wajah kaku petugas ka; mahal senyum, pelit bicara, lengkap sudah etalase wajah-wajah tak mengenakkan di stasiun ka.

Begitu kereta akan sampai, semua orang berebut berdiri di pinggir sepur (tempat kereta berhenti) dan berdiri paling depan, seakan tak mau didahului orang lain. Begitu pintu kereta terbuka, yang keluar kereta dan yang masuk saling berebut, berdesak, sikut menyikut, karena ketakutan tidak memperoleh tempat duduk. Semuanya dilakukan dengan wajah tegang, kaku dan tanpa tersenyum.

Selama sepuluh tahun naik kereta api (termasuk berada di stasiun) saya belum melihat stasiun mampu memberi kenyamanan bagi penumpangnya karena wajah-wajah kurang bersahabat tersebut. Saya tak tahu, kemana julukan smiling people yang ditujukan pada orang Indonesia selama berabad-abad.

Jauh berbeda ketika naik MRT (Mass Rapit Transit) di Singapura.  Orang-orang begitu santai, nyaman dan aman, meski setiap orang terburu-buru namun wajah-wajah mereka tampak santai sehingga suasana menjadi nyaman dan damai.   Orang-orang yang berada di stasiun, yang naik kereta, tampak santai, baca buku, ber-sms ria, ngobrol, dengan wajah yang enak dipandang.  Suasana seperti itu juga tampak ketika mereka naik bus kota. Semua orang tampak santai, nyaman, enak dipandang. Tanpa gembar-gembor, keselamatan, keamanan dan kenyamanan benar-benar di perhatikan sampai detil.

Yang paling menonjol dari kondisi itu adalah betapa disiplinnya masyarakat yang naik kereta atau bus karena sistem pemerintahannya yang tegas dan teratur, meski jarang sekali terlihat polisi atau petugas. Semuanya serba otomatis, serba mandiri.

Pencet stasiun tujuan yang ada di layar, masukkan $S 2,80 dan anda dapat tiket, lalu menuju sepur tujuan. Begitu kereta datang, pintu terbuka, tunggu penumpang yang turun, baru anda masuk. Setiap stasiun pemberhentian diumumkan lewat pengeras suara dan layar monitor di setiap gerbong. Sampai tujuan, sebelum keluar stasiun, masukkan tiket ke mesin dan anda dapat kembalian $S 1.  

Proses seperti itu mereka taati, dan mereka menghormati (bukan takut) hukum karena mereka tak mau susah terkena sangsi hukum. Itu tersirat dari begitu banyaknya rambu-rambu, sosialisasi-sosialisasi  dan juga himbauan-himbauan yang bersifat penyadaran hidup bersama orang lain. Kamera ada di mana-mana, begitu anda berbuat curang atau tak disiplin, polisi baru muncul dan menindak anda. Maka, pamflet, poster, rambu dan petunjuk di kereta api maupun di bus, sungguh ditaati masyarakatnya.

Di setiap bus, misalnya, kita disuguhi sebuah poster yang menggelitik berbunyi : JADILAH ORANG YANG BAIK HATI. Perjalanan yang membahagiakan dimulai seperti ini;  Beri tempat buat orang lain ( bergeserlah). Beri tempat duduk anda (kepada orang yang lebih membutuhkan). Biarkan orang lain turun terlebih dahulu ( jangan tergesa-gesa).

Apa yang termuat dalam sosialisasi yang diciptakan pengelola transportasi itu benar-benar dituruti oleh hampir semua orang Singapura. Termasuk bagi mereka yang datang ke Singapore karena sistem memaksa seperti itu. Dimana-mana ada tulisan, petunjuk, rambu dan peta. Di dalam kereta ( MRT) juga ada tulisan : Be considerate ! Give up this seat to a passenger with special needs (Toleransilah ! Berikan tempat duduk ini pada penumpang dengan kebutuhan khusus). Di bawahnya, persis yang ada di KRL Jabodetabek);  ada gambar hitam putih (siluet) orangtua memakai tongkat, ibu hamil dan ibu membawa anak bayi).

Penumpang kereta di sana benar-benar enggan duduk di tempat itu, jika tak benar-benar kosong. Kalau mereka melihat kondisi penumpang lain seperti di gambar himbauan (orang tua, wanita hamil, orang cacat) serta merta memberikan kursi itu kepada yang lebih berhak sesuai bunyi tanda-tanda itu.

Dan mereka – penumpang di sana - tak ada yang pura-pura tidur atau sibuk baca koran jika ada orang-orang dengan kriteria di atas. Mereka segera bangkit dan memberikan tempat itu kepada mereka sambil tersenyum santai. Di hampir sudut ada petunjuk, maklumat dan himbauan yang tidak terlalu kaku. Di pintu sepur sebelum pintu kereta terbuka, ada poster sebesar pintu dengan bintang iklan seorang nenek dengan kaca mata dan bergaya lucu dengan tulisan besar untuk mengingatkan agar waspada di sekitar kereta dengan tulisan besar-besaran: Don’t Play, Play. Maksudnya Tidak atau Jangan Main-Main. Di bawahnya ditulisin himbauan agar penumpang yang mau turun didahulukan, baru penumpang yang naik. Ini kata kunci yang dasyat sehingga setiap penumpang akan mengingatnya, dan setiap orang harus antri teratur dan naik kereta setelah penumpang turun.

Banyak rambu-rambu dan maklumat dibuat dalam empat bahasa : Inggris, China, Melayu dan India yang mewakili penduduk mayoritas di Singapura. Banyaknya rambu, tanda atau himbauan itu menjadi sosialisasi yang dasyat. Bukan saja mesin, komputer atau pintu yang serba otomatis. Penumpang juga secara otomatis mengikuti dan patuh pada petunjuk-petunjuk itu.

MRT benar-benar telah menjadi tulang punggung sistem transportasi di Singapura. Padahal sistem perkeretaapian di  Singapura, baru dimulai tahun 1987 dengan dibukanya jalur Yio Chu dan Toa Payah. Meski konsep MRT metro Singapore ini lahir setelah MRT Manila, Singapura mampu menunjukkan keunggulannya karena komitmen pemerintah dan kedisiplinan warganya. Kalau di Indonesia, kereta api masih menjadi istilah tulang punggung transportasi nasional, di Singapura benar-benar telah menjadi tulang punggung yang amat sistimatik.

Di sana, tiap hari, kereta mengangkut 1.435 juta penumpang yang hilir mudik di 74 stasiun sepanjang 109.4 kilometer dengan kereta yang selalu datang setiap 5 menit !  Bahkan diam-diam, Singapura juga telah melengkapi akses kereta dari dan ke Bandara Changi sejak  Februari 2002. Ada 21 kereta listrik seri 751B yang beroperasi di sana yang memiliki total 126  kereta.

Sepertinya pemerintah Singapura telah memiliki blue print dan aturan perkeretaapian yang jelas, transparan, sehingga ketika sistim itu diterapkan, pemerintah tinggal mengawasi lewat kamera yang ada di setiap sudut Singapura dan warga yang disiplin tinggal mematuhinya. Ketika keduanya komit melakukan pengawasan dan disiplin,  yang terlihat di stasiun kereta adalah wajah-wajah yang santai, wajah yang menyenangkan. Saya pun bisa tersenyum lega berkata:  Sungguh, naik keretaapi begitu nyaman, aman dan menyenangkan…… di Singapura !!


Edisi Terbaru

Link

Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor
Copyright© 2009 majalahka.com - powered by: cyberionmedia.com
170340