GADO GADO TAKSAKA 2009-07-30 11:43:11 Oleh: Mas Soegeng
Salah satu kunci
menaklukkan manusia salah satunya lewat perut. Makanan enak membuat ketagihan.
Bahkan menghilangkan nalar sejenak sang penikmatnya. Beruntunglah Anda yang
punya isteri pintar memasak.
Usai syuting Si Doel Anak Sekolahan di daerah Cinere
Jakarta, Rano Karno dan Pepeng “Jari-jari” mengajak keluar mencari makan.
Ternyata ke Bandara Soekarno Hatta naik pesawat menuju Yogya sekedar mencicipi
bubur di Hotel Santika. “ Di hotel ini, buburnya nggak ada yang ngalahin,” ujar
Rano. Memang, bubur di hotel ini agak asin sedikit, tapi aroma rempah-rempahnya
dengan suwiran (potongan) ayam putih dan telur serta irisan rempela ati plus
krupuk udang menjadikan bubur yang uenakk. Harga bubur semangkok Rp 7.000,-
beaya pesawatnya Rp 1.200.000,-
Dono Warkop (almarhum)
suatu kali mengirim pesan lewat pager, sebelum show Balada Paijo di Taman
Ismail Marzuki Jakarta. Kita ketemu di Solo nanti malam ya. Penting. Sampai di
Solo, Dono sudah duduk di pinggir trotoar di sebelah gereja Katolik di jalan
Slamet Riyadi. Di depannya ada bungkusan daun pisang kecil-kecil. “Di sini nasi
kucingnya top markotop,” ujarnya. Lagi-lagi benar. Bungkusan itu, berisi 4
sendok garpu, di pinggirnya ada sepotong kecil ikan bandeng dan sambal merah.
Rasanya? Top markotop.
Hanya untuk bubur yang
harganya Rp 7.000,- dan nasi kucing sebungkus Rp 1.000,- kami harus naik
pesawat pulang-pergi yang beayanya ratusan kali lipat sekedar memanjakan perut,
membeli suasana dan menciptakan selera. Tapi, itulah selera. Tak ada batas
wilayah yang mampu menghambatnya.
Kalau Anda sekarang ke
Solo, di sana dibuat pusat jajanan paling enak di Gladak, Jalan Slamet Riyadi
Solo. Anda bisa menggelar tikar di pinggir rel kereta atau duduk dimanapun Anda
mau. Berbagai makanan ter-enak di Solo tumplek blek di sana setiap malam. Yang
datang orang-orang dari berbagai pelosok di Nusantara ini.Dari orang biasa, artis sampai pejabat. Daya
tariknya? Selera makanan! Inilah The
Power of Taste alias Kekuatan Selera. Barang siapa ingin menaklukkan
seseorang, salah satunya lewat kuliner. Sebutkan kota mana saja, tempat mana
saja dan orang akan ingat jenis makanan khasnya.
Naik kereta api tidak
hanya lebih aman dan romantis, tapi juga bisa bikin ketagihan kalau ada menu
khas yang menggoda selera. Benar, bahwa penumpang kereta api kita tahun ini
mencapai 179.000.000 orang! Tapi banyak penumpang kurang happy. Bahwa mereka memilih kereta api karena tidak ada pilihan
lain. Banyak penumpang tidak happy lantaran
banyak fasilitas (kursi, pintu otomatis, ac, kipas angin, toilet)yang tidak berfungsi serta pelayanan yang
seadanya.
Menu di atas kereta api
apa adanya. Nyaris tidak ada makanan yang berselera yang bisa membuat penumpang
betah atau merasa perlu naik kereta api lagi karena menunya. Orang hanya ingat
di kereta api itu menu utamanya;nasi
goreng, mie rebus dan beef steak, yang biasa-biasa saja. Terlebih menu jatah
(tuslah) yang diberikan kepada penumpang -nasi empat sendok makan, ayam sebesar
jempol atau bandeng seiris, sayur layu dan kerupuk udang kecil-. Sungguh
menyiratkan kesan betapa tak mempedulikan selera.
Ini di luar catatan
sejumlah kasus-kasus pelayanan yang membuat penumpang seperti terjebak dan
tidak nyaman. Apakah pengelola restorasi tidak paham kuliner atau kurang
profesional dan hanya mengejar keuntungan? Tidak sesederhana seperti itu.
Betul bahwa pengelola
restorasi memperoleh beaya jatah makan penumpang (tuslah) dari PT KA sebesar Rp
18.500,- (makan siang atau malam) dan Rp 7.500,- untuk kue dan minuman. Hanya
sayangnya dalam pelaksanaan, seluruh menu yang disediakan oleh pengelola swasta
maupun anak perusahaan PT KA itu, ditentukan oleh pengelola KA yang tak paham
kekayaan kuliner Indonesia. Hampir semua pengelola restorasi keluhannya adalah
menu ditentukan PT KA, meski setiap waktu mereka juga sering mengusulkan menu
berbeda.
Setiap tahun, PT KA
membayar Rp 100 miliar kepada pengelola restorasi, tapi tidak memberikan nilai
tambah bagi penumpang KA. Penumpang tentu tak akan mau tahu bahwa sejumlah uang
yang diterima pengelola restorasi juga dibagi ke kiri-kanan. Mereka hanya tahu
betapa menu makanan tak membangkitkan selera penikmat kuliner.
Entah karena sebab-sebab
ini, direksi yang baru merevisi soal restorasi di kereta api ini; tuslah
ditiadakan atau dilakukan dengan penjualan bebas. Di sinilah pengelola
restorasi akan diuji profesioanalitasnya lewat pelayanan dan menu. Restorasi
yang memiliki menu dan memberikan pelayanan terbaik akan benar-benar ditentukan
di lapangan. Kompetisi ini akan menjadi kreatif dan dinamis selagi pengelola
tidak hanya satu perusahaan. Setidaknya kontribusi beberapa pengelola restorasi
yang selama ini ada, layak diperhitungkan dalam pendekatan baru kepada
penumpang lewat kekayaan kuliner.
Di sinilah hukum pasar
ekonomi berlaku; supplay (pasokan) dan demand (kebutuhan). Para penumpang
sekarang bisa bayangkan -sekiranya hal ini terjadi- akan ada pesta kuliner
setiap hari di atas kereta api; Gado-Gado Taksaka, Nasi Rames Anggrek, Bubur
Bima, Rames Ceker Dwipangga, Nasi Liwet Khas Lawu, Nasi TimbelWilis, Nasi Goreng Mak Nyuss Harina, Pecel
Rajawali, Nasi Campur Gajayana, Bebek Steak Sindoro, Cap Go Me Muria atau Teh
Sruput Prameks.
Hemmm, nantinya, naik
kereta api jadi tambah berselera………………………….