Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor Rabu, 8 September 2010
Katalog Majalah
Katalog Buku
Berlangganan Majalah
Pasang Iklan
Galeri
Berita Terbaru
Kumpulan Artikel
Kontak Kami
Catatan Pinggir Rel

07 June 2010
Perempuan Yang Berjalan Di Atas Rel
Oleh: Mas Soegeng
Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 47, Juni 2010 »»»

Thumbnail Gallery
Majalah KA Edisi Juni 2009
GADO GADO TAKSAKA
2009-07-30 11:43:11
Oleh: Mas Soegeng

Salah satu kunci menaklukkan manusia salah satunya lewat perut. Makanan enak membuat ketagihan. Bahkan menghilangkan nalar sejenak sang penikmatnya. Beruntunglah Anda yang punya isteri pintar memasak.

Usai syuting Si Doel Anak Sekolahan di daerah Cinere Jakarta, Rano Karno dan Pepeng “Jari-jari” mengajak keluar mencari makan. Ternyata ke Bandara Soekarno Hatta naik pesawat menuju Yogya sekedar mencicipi bubur di Hotel Santika. “ Di hotel ini, buburnya nggak ada yang ngalahin,” ujar Rano. Memang, bubur di hotel ini agak asin sedikit, tapi aroma rempah-rempahnya dengan suwiran (potongan) ayam putih dan telur serta irisan rempela ati plus krupuk udang menjadikan bubur yang uenakk. Harga bubur semangkok Rp 7.000,- beaya pesawatnya Rp 1.200.000,-

Dono Warkop (almarhum) suatu kali mengirim pesan lewat pager, sebelum show Balada Paijo di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kita ketemu di Solo nanti malam ya. Penting. Sampai di Solo, Dono sudah duduk di pinggir trotoar di sebelah gereja Katolik di jalan Slamet Riyadi. Di depannya ada bungkusan daun pisang kecil-kecil. “Di sini nasi kucingnya top markotop,” ujarnya. Lagi-lagi benar. Bungkusan itu, berisi 4 sendok garpu, di pinggirnya ada sepotong kecil ikan bandeng dan sambal merah. Rasanya? Top markotop.

Hanya untuk bubur yang harganya Rp 7.000,- dan nasi kucing sebungkus Rp 1.000,- kami harus naik pesawat pulang-pergi yang beayanya ratusan kali lipat sekedar memanjakan perut, membeli suasana dan menciptakan selera. Tapi, itulah selera. Tak ada batas wilayah yang mampu menghambatnya.

Kalau Anda sekarang ke Solo, di sana dibuat pusat jajanan paling enak di Gladak, Jalan Slamet Riyadi Solo. Anda bisa menggelar tikar di pinggir rel kereta atau duduk dimanapun Anda mau. Berbagai makanan ter-enak di Solo tumplek blek di sana setiap malam. Yang datang orang-orang dari berbagai pelosok di Nusantara ini.  Dari orang biasa, artis sampai pejabat. Daya tariknya? Selera makanan! Inilah The Power of Taste alias Kekuatan Selera. Barang siapa ingin menaklukkan seseorang, salah satunya lewat kuliner. Sebutkan kota mana saja, tempat mana saja dan orang akan ingat jenis makanan khasnya.

Naik kereta api tidak hanya lebih aman dan romantis, tapi juga bisa bikin ketagihan kalau ada menu khas yang menggoda selera. Benar, bahwa penumpang kereta api kita tahun ini mencapai 179.000.000 orang! Tapi banyak penumpang kurang happy. Bahwa mereka memilih kereta api karena tidak ada pilihan lain. Banyak penumpang tidak happy lantaran banyak fasilitas (kursi, pintu otomatis, ac, kipas angin, toilet)  yang tidak berfungsi serta pelayanan yang seadanya.

Menu di atas kereta api apa adanya. Nyaris tidak ada makanan yang berselera yang bisa membuat penumpang betah atau merasa perlu naik kereta api lagi karena menunya. Orang hanya ingat di kereta api itu menu utamanya;  nasi goreng, mie rebus dan beef steak, yang biasa-biasa saja. Terlebih menu jatah (tuslah) yang diberikan kepada penumpang -nasi empat sendok makan, ayam sebesar jempol atau bandeng seiris, sayur layu dan kerupuk udang kecil-. Sungguh menyiratkan kesan betapa tak mempedulikan selera.

Ini di luar catatan sejumlah kasus-kasus pelayanan yang membuat penumpang seperti terjebak dan tidak nyaman. Apakah pengelola restorasi tidak paham kuliner atau kurang profesional dan hanya mengejar keuntungan? Tidak sesederhana seperti itu.

Betul bahwa pengelola restorasi memperoleh beaya jatah makan penumpang (tuslah) dari PT KA sebesar Rp 18.500,- (makan siang atau malam) dan Rp 7.500,- untuk kue dan minuman. Hanya sayangnya dalam pelaksanaan, seluruh menu yang disediakan oleh pengelola swasta maupun anak perusahaan PT KA itu, ditentukan oleh pengelola KA yang tak paham kekayaan kuliner Indonesia. Hampir semua pengelola restorasi keluhannya adalah menu ditentukan PT KA, meski setiap waktu mereka juga sering mengusulkan menu berbeda.

Setiap tahun, PT KA membayar Rp 100 miliar kepada pengelola restorasi, tapi tidak memberikan nilai tambah bagi penumpang KA. Penumpang tentu tak akan mau tahu bahwa sejumlah uang yang diterima pengelola restorasi juga dibagi ke kiri-kanan. Mereka hanya tahu betapa menu makanan tak membangkitkan selera penikmat kuliner.

Entah karena sebab-sebab ini, direksi yang baru merevisi soal restorasi di kereta api ini; tuslah ditiadakan atau dilakukan dengan penjualan bebas. Di sinilah pengelola restorasi akan diuji profesioanalitasnya lewat pelayanan dan menu. Restorasi yang memiliki menu dan memberikan pelayanan terbaik akan benar-benar ditentukan di lapangan. Kompetisi ini akan menjadi kreatif dan dinamis selagi pengelola tidak hanya satu perusahaan. Setidaknya kontribusi beberapa pengelola restorasi yang selama ini ada, layak diperhitungkan dalam pendekatan baru kepada penumpang lewat kekayaan kuliner.

Di sinilah hukum pasar ekonomi berlaku; supplay (pasokan) dan demand (kebutuhan). Para penumpang sekarang bisa bayangkan -sekiranya hal ini terjadi- akan ada pesta kuliner setiap hari di atas kereta api; Gado-Gado Taksaka, Nasi Rames Anggrek, Bubur Bima, Rames Ceker Dwipangga, Nasi Liwet Khas Lawu, Nasi Timbel  Wilis, Nasi Goreng Mak Nyuss Harina, Pecel Rajawali, Nasi Campur Gajayana, Bebek Steak Sindoro, Cap Go Me Muria atau Teh Sruput Prameks.

Hemmm, nantinya, naik kereta api jadi tambah berselera………………………….

 

 


Edisi Terbaru

Link

Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor
Copyright© 2009 majalahka.com - powered by: cyberionmedia.com
170358