HOSTESS ALA ARGOGEDE ! 2009-07-30 11:54:54 Oleh: Mas Soegeng
Kereta Argogede baru
saja berangkat dari Jakarta menuju Bandung pukul 06.10. Seorang perempuan
nyeletuk begitu keluar dari toilet. ”Tumben toiletnya bersih dan bau wangi.
Mimpi apa gerangan orang kereta api, “ ujarnya sembari menuju tempat
duduk.
Disadari atau tidak,
memang ada evolusi di tubuh kereta api, meski masih dalam skala kecil-kecilan.
Sedang ada pergerakan ke arah perubahan. Tampaknya Direksi yang baru ini serius
dengan kata-katanya. “Prioritas utama saya adalah pada pelayanan. Itu yang akan
saya benahi terlebih dahulu,” ujar Dirut PT KA, Ignasius Jonan didampingi
Sulistyo Wimbo Hardjito, Direktur Komersial, kepada Majalah KA dua bulan lalu.
Kata-kata itu sekarang
sedang dimulai lewat beberapa aksi; Kereta Ekonomi (K3) dan Kereta Bisnis (K2)
masuk salon kecantikan Dipo Kereta, Stasiun dipermak, gaji dinaikkan, struktur
organisasi disolidkan, anak perusahaan PT KA dilahirkan, pelayanan
ditingkatkan, dan 27 ribu jajaran PT KA diminta siap menjadi pelayan penumpang.
Sebagai simbol pelayanan, seluruh karyawan dan direksi menggunakan pakaian
seragam (R6) abu-abu untuk menunjukkan mereka siap melayani.
Salah satu aksi yang
sedang dilakukan adalah peningkatan pelayanan di KA Argo Gede (Bandung-Jakarta)
mulai 1 Juli 2009. Selain toilet bersih dan bau wangi, selalu ada air,
penumpang KA jarak pendek ini juga disediakan bacaan gratis Koran dan majalah
seperti Media Indonesia, Transindo dan Majalah Kereta Api (MKA). Di dalam
kereta juga lumayan wangi. Ini lantaran perkereta dilayani oleh seorang OTC (On
Train Cleaning). Mereka ini yang bertanggung jawab masalah kebersihan kereta
dan toilet. Jadi jangan kaget, kalau sekarang Anda keluar dari toilet, sang OTC
itu buru-buru membersihkan. Terlalu rajin? Mereka dibayar untuk itu.
Prama-prami yang tadinya
acuh, sekarang harus banyak senyum dan melayani penumpang. Kalau biasanya
mereka menyajikan makanan minuman terbuka, kini harus dengan tutup agar
higienisnya terjaga, selain enak dipandang. Yang sedikit berbeda adalah menu di
restorasi yang sekarang diusahakan bervariasi, tergantung dari
pengelolanya.Bagi yang mau berkaraoke,
boleh datang ke KM (Kereta Makan) untuk bertralalili. Kalau Anda membawa laptop
atau baterai ponsel Anda sudah lemah, Argo Gede menyediakan colokan di bawah
bangku kecil yang menempel di bawah jendela.
Suasana lain juga tampak
pada penyajian program televisi KATV yang setiap berangkat atau sampai di
stasiun tujuan, musiknya disesuaikan dengan daerah setempat, yakni lagu-lagu Sunda
(Bandung) dan Betawi (Jakarta). Beberapa kru kadang kreatif, begitu kereta
lewat terowongan, sang prami bercerita seluk-beluk terowongan ini. Sebuah
telling story yang simple tapi cerdas.
Yang cukup unik, di
ujung kiri pintu di samping TV, sekarang dipasang papan berisi foto dan nomor
ponsel penanggung jawab perjalanan kereta, yakni MOD (Manager of Duty), seperti
di supermarket atau restoran. Tugas baruyang djabat kondektur ini adalah menangani problem selama perjalanan.
Terutama keluhan penumpang atas pelayanan di atas kereta api. Semua fasilitas
tambahan ini diberikan kepada penumpang tanpa kenaikan tiket, untuk sementara
waktu.
Peningkatan pelayanan
ini baru dilakukan di Argo Gede saja. Selain untuk percobaan pemantauan
pelayanan, juga mengatrol okupansi Argo Gede yang selama lima tahun terakhir
ini anjlog gara-gara penumpang kereta banyak yang lari naik mobil dan travel.
Apakah iming-iming peningkatan pelayanan ini berhasil? Terlalu dini untuk
menilai.
Beberapa kali strategi
mengangkat KA Argo Gede sudah dilakukan. Dari menurunkan harga, memberi
iming-iming 1 tiket gratis untuk perjalanan yang ke-10, atau diskon 10% ,
bahkan singgah di Stasiun Bekasi dilakukan agar penumpang banyak yang naik.
Namun penumpang sepertinya bergeming. Mereka masih melihat lewat tol lebih
cepat, lebih baik.
Bahwa sekarang PT KA
mencoba lagi melakukan kesungguhan dalam melayani penumpang, yang penting
semangatnya, niatnya terlebih dahulu. Bahwa banyak petugas di lapangan yang
pontang-panting atau “dipaksa” melakukan disiplin pelayanan, ini hanyalah
masalah waktu. Yakni masalah pola pikir, kebiasaan, perilaku dan
profesionalisme.Saatnya kereta api
Indonesia menuju Stasiun Masa Depan. Yang tak bisa mengikuti perubahan, memang
sebaiknya ditinggal karena perubahan memang memerlukan kesadaran.
Yang tak kalah
pentingnya berharap dari perubahan adalah kontinuitas. Banyak program perubahan
(dalam hal ini pelayanan, perbaikan) dilakukan, sering lebih bersifat
seremonial, dan sering berantakan karena tak ada pengawasan. Apalagi masih
banyaknya orang yang apatis bahwa perubahan ini bersifat dadakan, tiba-tiba atau hangat-hangat kotoran ayam belaka.
Repotnya lagi, perubahan
ini juga belum disosialisasikan dengan baik, sehingga kalaupun toh sekarang
penumpang merasa senang ada perubahan pelayanan, berharap promosi dari mulut ke
mulut jelas perlu waktu panjang dan melelahkan. Seperti sebuah perlombaan yang
tak imbang antara menjaga kualitas pelayan di kereta Argogede dengan perubahan
perilaku masyarakat pengguna transportasi Bandung-Jakarta dan sebaliknya.
Selain itu, petugas di
atas KA yang menjadi ujung tombak pelayanan kereta api juga perlu jam terbang
untuk mendisiplinkan diri mengubah pola pelayanan dan bisnis mereka. Kalau dulu
mereka dibayar untuk pelayanan oleh PT KA, sekarang harus memahami keinginan
penumpang, kalau ingin uang mengucur dari kocek pelayanan. Kalau dulu restorasi
menerima uang Rp 100 miliar dari PT KA atas pelayanan yang diberikan, sekarang
berapapun yang mereka inginkan tergantung strategi mereka dalam menggaet
penumpang dalam hal menu yang sesuai.
Saya teringat dikotomi
pejabat publik tentang pelayanan itu bak seorang hostess sebuah disko. Siapapun
yang datang dilayani. Tak peduli tua, muda, cacat atau bau keringat tak sedap,
yang penting dilayani. Tak peduli si hostess sedang tak sehat, banyak masalah,
pelanggan harus dilayani dengan baik sampai mereka puas berkunjung. Kalau ini
dilakukan, maka para pelanggan puas dan pemilik disko dapat uang sertarepeat konsumen.
Sekali lagi,perubahan ini tidak mudah karena menyangkut
etos kerja. Bagi yang biasa berada di zona kenyamanan, hal ini jelas tantangan
tersendiri. Bagaimana dengan “pelayan-pelayan” lain? Untuk awalnya, jelas
gerakan duo Jonan dan Wimbo ini, menurut istilah Kahumas Daop 1, membuat
karyawan PT KA lari terpontang panting. Maklum, budaya “BUMN” yang biasa
dilayani, sekarang benar-benar dipaksa untuk melayani.
Setiap pemimpin memiliki
masanya sendiri dan setiap Dirut PT KA memiliki gayanya sendiri. Gaya bawaan
duo orang nomor satu di PT KA ini jelas berbeda dengan pendahulunya. Perlu juga
menggerakkan mesin 27 ribu karyawan PT KA. Kalau gerakan awal yang dipilih
adalah membenahi pelayanan, rasanya operator kereta api sekarang ini menuju
arah yang tepat. Apakah orang-orang kereta sudah siap menjadi hostess yang
serius dan professional dan bukan ala kadarnya, mari kita awasi
saja…………………………………………