Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor Jumat, 10 September 2010
Katalog Majalah
Katalog Buku
Berlangganan Majalah
Pasang Iklan
Galeri
Berita Terbaru
Kumpulan Artikel
Kontak Kami
Catatan Pinggir Rel

07 June 2010
Perempuan Yang Berjalan Di Atas Rel
Oleh: Mas Soegeng
Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 47, Juni 2010 »»»

Thumbnail Gallery

Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi September 2009

Salam Tempel !
2009-08-31 19:37:03
Oleh: Mas Soegeng

Seorang karyawan perusahaan swasta menulis di facebook begini : suatu hari, saya naik kereta api bersama isteri tercinta dan anak-anak kesayanganku. Aku biasa naik kereta api dan kenal banyak orang di atas kereta. Termasuk kondektur. Kali ini aku ingin membahagiakan keluargaku naik kereta api. Kereta jalan dan kondektur memeriksa tiket. Sampai di tempatku, kondektur itu tersenyum padaku (karena aku kenal) lalu aku sodorkan tiket. Pak Kondektur mencoblos tiket sembari tersenyum ke arahku, “Tumben beli tiket”, kata kondektur itu datar. Sumpah, aku tak berani melihat wajah isteriku saat itu, tulisnya.

Ratusan kisah lucu, menggelikan dan memalukan sering terjadi di kereta api kita. Bukan hanya sesama kondektur (yang tidak melakukan) yang memperoleh getahnya. PT KA selaku perusahaan besar, citranya rusak untuk hal-hal sepele yang sepertinya sulit hilang selama ini.

Maka, ketika muncul running teks pada Selasa, 12 Mei 2009 jam 21.20 di sebuah tv swasta: 20 juta penumpang tak berkarcis naik kereta api, orang menganggap bukan berita lagi. Sebagai orang yang biasa berdiri di pinggir rel, saya hanya bisa membayangkan hitungan matematika: 20.000.000 x Rp 1.500,- (harga tiket ka paling murah) sama dengan Rp 35 miliar, adalah angka kebocoran fantastis, meski angka sebenarnya bisa lebih tinggi dari itu.

Contohnya, suatu hari, antara tahun 2007 sampai 2008, Kahumas (mantan) Akhmad Sujadi melakukan One Day Ticket Campaign ( Kampanye Sehari Penumpang Bertiket) di beberapa kereta. . Hasilnya ; Penumpang Lintas Jakarta-Tanah Abang-Serpong-Merak yang tak memiliki tiket 19.000, Lintas Bogor 60.000, lintas Cikampek 12.000. Total jenderal ada 91.000 penumpang/ hari atau 33 juta lebih  penumpang ka tak bertiket alias uang hilang Rp 50 miliar kurang dikit ( silakan hitung sendiri kekurangannya).

Itu baru di sebagian kecil data-data faktual. Sulit dibayangkan jika itu ditambah dengan lintas jarak sedang sampai jarak jauh antar kota di Jawa dan Sumatera. Jika mau lebih rumit lagi kalikan rata-rata harga tiket kereta ekonomi paling murah Rp 1.500,- (Depok Manggarai), Rp 2.000,- (Depok-Kota). Tiket Ekonomi AC Rp 5.500,-, AC Ekspres Rp 9.000,- s/d Rp 11.000,-. Seorang pencinta kereta api menyebut setiap tahun PT KA kehilangan potensi dari tiket penumpang sebesar Rp 80-Rp 150 miliar!!

Beberapa kali dilakukan penertiban dan hasilnya memuaskan. Sayang, hanya dilakukan sekali dua kali. Untuk kereta luarkota, yang tiketnya lebih tinggi seperti di kelas Argo dan Bisnis angka-angka ini bisa lebih spektakuler. Salam tempel antara kondektur dan penumpang ini terjadi di semua kereta; KA Eksekutif (K1), KA Bisnis (K2)  dan KA Ekonomi (K3).

Di beberapa daerah operasional, beberapa K3 seperti jurusan ke Merak misalnya, malah nyaris tak bertiket. Bayarnya pakai koin (500-an atau 1000-an) yang langsung dimasukkan di kantong celana kondektur yang dibuat khusus dan bila berjalan seperti seorang koboi sembari terdengar bunyi cring..incringggg..incringgg. 

Income kereta ke arah Merak perbulan konon cuma Rp 800 juta. Hasil rekapitulasi menyebut, KDO bisa memperoleh minimal Rp 1,5 miliar. Dia menargetkan bawahannya per-bulan Rp 1,2 miliar. Sisanya Rp 300 juta akan ditombokin dari kantong lain. Namun para petugas menolak bahkan kabarnya sampai terjadi putus hubungan kerja dan dilanjutkan dengan demo. Akhirnya dipakai sistem borongan. Selebihnya bagi-bagi keuntungan antara kondektur, masinis, dan mitra-mitra kerja di atas ka. Aneh? Tapi ini nyata di era serba administratif dan hi-tech ini.

Kalau ada penumpang bertiket dan tak bertiket, sosok yang bertanggungjawab utama adalah sang kondektur. Tugas kondektur hanya memeriksa tiket penumpang. Kalau tak ada tiket, suruh bayar atau turun. Tapi bukan rahasia lagi bagaimana penumpang regular luarkota biasa main tangan (bukan main mata) dengan penumpang alias salam tempel.

Ciri-ciri orang seperti ini biasa ditandai sebagai berikut: mereka naik ka dengan menduduki tempat di gerbong dan selalu pergi begitu ada penumpang asli (bertiket) datang. Mereka berpindah-pindah terus. Ada juga yang langsung duduk di ruang restorasi di KM (Kereta Makan). Biasanya mereka sudah dikenal kondektur dan cukup salam tempel saat pemeriksaan. Kalau banyak penumpang, sang kondektur pergi ke bordes dan penumpang gelap tadi menemui pak kondektur dan menyelipkan kertas berharga di sana. Sleppp.

Ada juga penumpang tanpa karcis yang bikin repot kondektur. Yakni dari karyawan PT KA sendiri, maupun dari “angkatan” rambut cepak. Kondektur tak bisa berbuat banyak, meski sebenarnya petinggi ABRI sudah menyediakan gerbong khusus untuk mengangkut mereka. Mereka lebih suka ikut naik ka eksekutif dan kadang menggelisahkan penumpang eksekutif yang sudah bayar dan perlu ketenangan dalam perjalanan. 

Di Jabotabek, sebelum ada tenaga outsourching, banyak eksekutif muda berdasi menjinjing tas dan laptop, melakukan salam tempel dengan kondektur agar mereka bisa bayar murah dan turun di stasiun yang mereka kehendaki meski rute ka tidak berhenti. Sekarang, hal itu jarang terjadi setelah ada pembagian rute pemberhentian stasiun.

Benar, bahwa dari hitung-hitungan matematika, PT KA tak bisa meraup untung dari tiket penumpang. Tahun lalu, beaya operasional untuk perbaikan sarana dan prasarana ka mencapai Rp 4,1 triliun, sementara pendapatan keseluruhan PT KA hanya sebesar Rp 4,3 triliun. Andai hasil pemasukan dari tiket ini diperketat dan dipertajam sistem dan pengawasannya, tentulah uang negara tidak melayang sia-sia masuk ke kantong satu-dua oknum saja.

Apapun nama dan sebutannya, Sang Kondektur memang ujung tombak penghasilan tiket penumpang. Jelas ada kriteria kondektur jujur dan kondektur tak jujur. Celakanya penumpang sendiri sering menggoda kondektur. Harus diakui, pengawasan terhadap kondektur amat longgar. Ditambah dengan adanya tiket penumpang tanpa tempat duduk (TTD), serta lembar suplisi yang tak jelas laporannya, attitude sang kondektur sendiri memiliki peran amat besar dalam menggerogoti pemasukan PT KA.

Tugas kondektur tidak hanya melobangi tiket, lalu tandatangan di lembar manifest, setelah itu duduk di KM sambil menunggu kondektur pengganti. Dia mestinya juga bertanggung jawab secara keseluruhan ketika kereta berjalan. Apakah SOP berjalan sebagaimana mestinya, tampaknya pengawasan untuk hal seperti ini kurang diperhatikan biarpun dampaknya besar.

Setia dan jujur saja tidak cukup sebagai bekal sang kondektur. Ada dua hal amat penting yang bisa menghapuskan cara-cara seperti ini. Meski gaji kondektur sudah disesuaikan, sayangnya belum ada Undang Undang yang mengatur ulah kondektur dan penumpang ini. PT KA mestinya memberi hukum dan disiplin yang tegas. Baik kepada kondektur, juga kepada penumpang. Hukum itu untuk mengatur orang lain, disiplin untuk mengatur diri sendiri. Kalau dua hal ini tak dimiliki sang kondektur, ratusan miliar uang negara sirna dan perilaku korup di lingkungan kereta api seperti dibiarkan begitu saja.

Di tengah semangat para pimpinan PT KA berbenah melayani penumpang dan menggenjot keuntungan, sikap kondektur yang tak sejalan dengan perubahan manajemen bak batu sandungan di atas rel yang tengah melaju.

Kalau peraturan belum bisa dianut, hukuman sulit diterapkan, setidaknya harus ada gerakan moral terhadap perilaku ini. Misalnya dengan memasang stiker bertuliskan peringatan-peringatan terhadap kondektur dan penumpang. “Jangan rendahkan diri dan keluarga Anda dengan tidak membeli tiket atau menerima uang dari penumpang kereta api” atau “Apa yang bisa Anda banggakan kepada keluarga  dengan cara menerima atau memberi uang di atas kereta api?”.

Kalau ini belum juga bikin kapok, barangkali mereka ini sudah tak punya urat malu lagi…..


Edisi Terbaru

Link

Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor
Copyright© 2009 majalahka.com - powered by: cyberionmedia.com
171029