Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi September 2009
Salam Tempel ! 2009-08-31 19:37:03 Oleh: Mas Soegeng
Seorang karyawan perusahaan swasta
menulis di facebook begini : suatu hari, saya naik kereta api bersama isteri
tercinta dan anak-anak kesayanganku. Aku biasa naik kereta api dan kenal banyak
orang di atas kereta. Termasuk kondektur. Kali ini aku ingin membahagiakan
keluargaku naik kereta api. Kereta jalan dan kondektur memeriksa tiket. Sampai
di tempatku, kondektur itu tersenyum padaku (karena aku kenal) lalu aku
sodorkan tiket. Pak Kondektur mencoblos tiket sembari tersenyum ke arahku,
“Tumben beli tiket”, kata kondektur itu datar. Sumpah, aku tak berani melihat
wajah isteriku saat itu, tulisnya.
Ratusan kisah lucu, menggelikan dan
memalukan sering terjadi di kereta api kita. Bukan hanya sesama kondektur (yang
tidak melakukan) yang memperoleh getahnya. PT KA selaku perusahaan besar,
citranya rusak untuk hal-hal sepele yang sepertinya sulit hilang selama ini.
Maka, ketika muncul running teks pada
Selasa, 12 Mei 2009 jam 21.20 di sebuah tv swasta: 20 juta penumpang tak
berkarcis naik kereta api, orang menganggap bukan berita lagi. Sebagai orang
yang biasa berdiri di pinggir rel, saya hanya bisa membayangkan hitungan
matematika: 20.000.000 x Rp 1.500,- (harga tiket ka paling murah) sama dengan
Rp 35 miliar, adalah angka kebocoran fantastis, meski angka sebenarnya bisa
lebih tinggi dari itu.
Contohnya, suatu hari, antara tahun 2007
sampai 2008, Kahumas (mantan) Akhmad Sujadi melakukan One Day Ticket Campaign (
Kampanye Sehari Penumpang Bertiket) di beberapa kereta. . Hasilnya ; Penumpang
Lintas Jakarta-Tanah
Abang-Serpong-Merak yang tak memiliki tiket 19.000, Lintas Bogor 60.000, lintas
Cikampek 12.000. Total jenderal ada 91.000 penumpang/ hari atau 33 juta
lebihpenumpang ka tak bertiket alias
uang hilang Rp 50 miliar kurang dikit ( silakan hitung sendiri kekurangannya).
Itu baru di sebagian kecil data-data
faktual. Sulit dibayangkan jika itu ditambah dengan lintas jarak sedang sampai
jarak jauh antar kota
di Jawa dan Sumatera. Jika mau lebih rumit lagi kalikan rata-rata harga tiket
kereta ekonomi paling murah Rp 1.500,- (Depok Manggarai), Rp 2.000,-
(Depok-Kota). Tiket Ekonomi AC Rp 5.500,-, AC Ekspres Rp 9.000,- s/d Rp
11.000,-. Seorang pencinta kereta api menyebut setiap tahun PT KA kehilangan
potensi dari tiket penumpang sebesar Rp 80-Rp 150 miliar!!
Beberapa kali dilakukan penertiban dan
hasilnya memuaskan. Sayang, hanya dilakukan sekali dua kali. Untuk kereta
luarkota, yang tiketnya lebih tinggi seperti di kelas Argo dan Bisnis
angka-angka ini bisa lebih spektakuler. Salam tempel antara kondektur dan
penumpang ini terjadi di semua kereta; KA Eksekutif (K1), KA Bisnis (K2)dan KA Ekonomi
(K3).
Di beberapa daerah operasional, beberapa
K3 seperti jurusan ke Merak misalnya, malah nyaris tak bertiket. Bayarnya pakai
koin (500-an atau 1000-an) yang langsung dimasukkan di kantong celana kondektur
yang dibuat khusus dan bila berjalan seperti seorang koboi sembari terdengar
bunyi cring..incringggg..incringgg.
Income kereta ke arah Merak perbulan
konon cuma Rp 800 juta. Hasil rekapitulasi menyebut, KDO bisa memperoleh
minimal Rp 1,5 miliar. Dia menargetkan bawahannya per-bulan Rp 1,2 miliar.
Sisanya Rp 300 juta akan ditombokin dari kantong lain. Namun para petugas
menolak bahkan kabarnya sampai terjadi putus hubungan kerja dan dilanjutkan
dengan demo. Akhirnya dipakai sistem borongan. Selebihnya bagi-bagi keuntungan
antara kondektur, masinis, dan mitra-mitra kerja di atas ka. Aneh? Tapi ini
nyata di era serba administratif dan hi-tech ini.
Kalau ada penumpang bertiket dan tak
bertiket, sosok yang bertanggungjawab utama adalah sang kondektur. Tugas
kondektur hanya memeriksa tiket penumpang. Kalau tak ada tiket, suruh bayar
atau turun. Tapi bukan rahasia lagi bagaimana penumpang regular luarkota biasa
main tangan (bukan main mata) dengan penumpang alias salam tempel.
Ciri-ciri orang seperti ini biasa
ditandai sebagai berikut: mereka naik ka dengan menduduki tempat di gerbong dan
selalu pergi begitu ada penumpang asli (bertiket) datang. Mereka
berpindah-pindah terus. Ada
juga yang langsung duduk di ruang restorasi di KM (Kereta Makan). Biasanya
mereka sudah dikenal kondektur dan cukup salam tempel saat pemeriksaan. Kalau
banyak penumpang, sang kondektur pergi ke bordes dan penumpang gelap tadi
menemui pak kondektur dan menyelipkan kertas berharga di sana. Sleppp.
Ada juga penumpang tanpa
karcis yang bikin repot kondektur. Yakni dari karyawan PT KA sendiri, maupun
dari “angkatan” rambut cepak. Kondektur tak bisa berbuat banyak, meski
sebenarnya petinggi ABRI sudah menyediakan gerbong khusus untuk mengangkut
mereka. Mereka lebih suka ikut naik ka eksekutif dan kadang menggelisahkan
penumpang eksekutif yang sudah bayar dan perlu ketenangan dalam
perjalanan.
Di Jabotabek, sebelum ada tenaga
outsourching, banyak eksekutif muda berdasi menjinjing tas dan laptop,
melakukan salam tempel dengan kondektur agar mereka bisa bayar murah dan turun
di stasiun yang mereka kehendaki meski rute ka tidak berhenti. Sekarang, hal
itu jarang terjadi setelah ada pembagian rute pemberhentian stasiun.
Benar, bahwa dari hitung-hitungan
matematika, PT KA tak bisa meraup untung dari tiket penumpang. Tahun lalu,
beaya operasional untuk perbaikan sarana dan prasarana ka mencapai Rp 4,1
triliun, sementara pendapatan keseluruhan PT KA hanya sebesar Rp 4,3 triliun.
Andai hasil pemasukan dari tiket ini diperketat dan dipertajam sistem dan
pengawasannya, tentulah uang negara tidak melayang sia-sia masuk ke kantong
satu-dua oknum saja.
Apapun nama dan sebutannya, Sang
Kondektur memang ujung tombak penghasilan tiket penumpang. Jelas ada kriteria
kondektur jujur dan kondektur tak jujur. Celakanya penumpang sendiri sering
menggoda kondektur. Harus diakui, pengawasan terhadap kondektur amat longgar.
Ditambah dengan adanya tiket penumpang tanpa tempat duduk (TTD), serta lembar
suplisi yang tak jelas laporannya, attitude sang kondektur sendiri memiliki
peran amat besar dalam menggerogoti pemasukan PT KA.
Tugas kondektur tidak hanya melobangi
tiket, lalu tandatangan di lembar manifest, setelah itu duduk di KM sambil
menunggu kondektur pengganti. Dia mestinya juga bertanggung jawab secara
keseluruhan ketika kereta berjalan. Apakah SOP berjalan sebagaimana mestinya,
tampaknya pengawasan untuk hal seperti ini kurang diperhatikan biarpun
dampaknya besar.
Setia dan jujur saja tidak cukup sebagai
bekal sang kondektur. Ada
dua hal amat penting yang bisa menghapuskan cara-cara seperti ini. Meski gaji
kondektur sudah disesuaikan, sayangnya belum ada Undang Undang yang mengatur
ulah kondektur dan penumpang ini. PT KA mestinya memberi hukum dan disiplin
yang tegas. Baik kepada kondektur, juga kepada penumpang. Hukum itu untuk
mengatur orang lain, disiplin untuk mengatur diri sendiri. Kalau dua hal ini
tak dimiliki sang kondektur, ratusan miliar uang negara sirna dan perilaku
korup di lingkungan kereta api seperti dibiarkan begitu saja.
Di tengah semangat para pimpinan PT KA
berbenah melayani penumpang dan menggenjot keuntungan, sikap kondektur yang tak
sejalan dengan perubahan manajemen bak batu sandungan di atas rel yang tengah
melaju.
Kalau peraturan belum bisa dianut,
hukuman sulit diterapkan, setidaknya harus ada gerakan moral terhadap perilaku
ini. Misalnya dengan memasang stiker bertuliskan peringatan-peringatan terhadap
kondektur dan penumpang. “Jangan
rendahkan diri dan keluarga Anda dengan tidak membeli tiket atau menerima uang
dari penumpang kereta api” atau “Apa
yang bisa Anda banggakan kepada keluargadengan cara menerima atau memberi uang di atas kereta api?”.
Kalau ini belum juga bikin kapok,
barangkali mereka ini sudah tak punya urat malu lagi…..