Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 40, November 2009
AWAS . MENGAWASI, DIAWASI 2009-11-04 18:37:56 Oleh: Mas Soegeng
Kalau anda naik Subway
di Perancis, nyaris tak ada yang berani “ salam temple” dengan kondektur.
Maklum, kondekturnya bukan karyawan dari perusahaan kereta api yang mengelola. Penumpang
kereta rakyat bawah ( K3) – di Indonesia maupun kebanyakan dunia lain- - di
subsidi pemerintah setempat. Di Perancis, subsidi penumpang berdasarkan seat
kosong, dibiayai pemda. Agar bantuan bisa dilaksanakan secara baik dan
pelaksanaannya diawasi, diterjunkanlah pegawai pemda yang bertindak sebagai kondektur.
Bagai mereka yang biasa salam temple di sini, jangan coba di negara lain, kalau
tak ingin dijebloskan ke bui.
Dalam dunia
pelayanan, salah satu kunci keberhasilan kepuasan pelanggan adalah pengawasan.
Pengawasan yang efektif bukan oleh jajaran instansi yang bersangkutan,
melainkan dari masyarakat itu sendiri. Awas mengawasi ini sangat ketat
dilakukan di negara maju agar pelaksanaan di lapangan dilakukan secara akuntabilitas,
kredibilitas juga efektif. Itu sebabnya petugas perkeretaapian di banyak negara
bisa diganti dan dipertahankan karena laporan masyarakat. Di Negara yang
perkeretaapiannya maju, masyarakat pengguna kereta api sangat cerewet dan itu
diperlukan pengelola perkeretaapian agar petugas di lapangan tidak bisa seenaknya
sendiri. Di Jepang, seorang petugas loket diberhentikan gara-gara ketika
melayani penumpang, sambil membuka facebook. Kontrol terbaik atas pelayanan
seharusnya memang dari masyarakat.
Banyak cara
dilakukan agar masyarakat ikut mengawasi kinerja orang-orang lapangan. Di
Stasiun kota,
ada sebuah supermarket yang di depan kasir ditulis : Jika kasir tidak ramah
atau tersenyum, anda berhak memperoleh wafer dan minuman gratis. Di pusat
belanja Carefor, setiap belanja, kasir selalu menanyakan apa kita perlu isi
ulang pulsa hape. Kalau kasir lupa menanyakan, kita berhak menerima imbalan
pulsa Rp 10.000,-. Banyak took di Mangga Dua, Jakarta banyak dipasang tulisan : jika
pelayan tidak memberi bon/ kwitansi, anda tak perlu bayar. Di ITC Bumi Serpong
Damai ( BSD) Tangerang, begitu kita akan membayar parkir, seorang petugas
melongokkan kepalanya, dan cepat-cepat membuka mulutnya untuk senyum. Di sana ada sebuah maklumat
: jika petugas tidak senyum, tidak ramah dan tidak memberi uang kembalian atau
tiket bukti pembayaran, anda bebas membayar parkir. Sungguh ajaib, maklumat
yang ditempel di atas kertas ½ folio itu membuat banyak kasir parkir sekarang
ramah-ramah dan giginya bersih-bersih.
Itulah hasil
pengawasan publik. Para petugas dipaksa
senyum, diharuskan menawarkan sesuatu, karena jika tidak melaksanakan, gaji
atau honornya akan dipotong. Agar gaji tak dipotong, lebih baik tersenyum saja.
Bukankah tersenyum juga member kedamaian orang lain ?
Akhirnya senyum
adalah salah satu tugas pokok petugas lapangan yagn berhadapan dengan konsumen
atau pelanggan. Pelayanan dan peningkatan penjualan adalah dampak besar yang
ditimbulkan atas pengawasan oleh masyarakat dan beaya kecil yang dikeluarkan
oleh pengusaha. Keterancaman, keterpaksaan pengurangan ekonomi atau dipecat
yang akan ditanggung oleh petugas tampaknya mampu membuat orang ketakutan
sehingga mereka memilih melaksanakan tugas yang seharusnya memang mereka
lakukan dengan baik.
Meski penumpang
ka di Indonesia
cukup cerewet, tapi tidak produktif. Di Indonesia, keluhan lewat sms, surat pembaca maupun
mengadu langsung kepada pejabat PT KA tentang buruknya kinerja petugas di
lapangan tak memberi dampak perubahan. Kuncinya adalah karena tak ada sangsi atas
kelalaian, keteledoran atau buruknya pelayanan mereka. Kalau hari ini anda
mengeluh bahwa uang kembalian tiket tidak diberikan pada anda, lalu anda sudah
menulis di surat pembaca di Koran, besok dan besoknya uang kembalian tetap
menjadi milik petugas loket, secerewet apapun anda mengeluh Jika ada petugas yang ketus, satpam yang tidur
di ruang restorasi atau kondektur yang ketahuan menerima uang dari penumpang
lalu anda laporkan, hal itu tak membuat jera para petugas itu. Mereka tahu tak
ada sangsi untuk itu, meski memperoleh teguran.
Keluhan saat ini
tentang betapa panasnya penyejuk udara ( ac ) di KA Eksekutif,
ketidaktersediaan air di toilet, pintu bordes yang terbuka terus sehingga
membaut penumpang terganggu, petugas restorasi yang lelet, dan semena-mena
dalam melayani, atau kondektur yang sibuk memasukkan penumpang gelap adalah
keluhan yang sama yang sudah terjadi lima tahun lalu. Keluhan tentang kipas
angin atau lampu gerbong yang mati, toilet bau tak sedap, asongan yang bikin
sumpek di gerbong atau penumpang yang dijejal di ka ekonomi adalah keluhan
sekian puluh tahun lalu yang hampir sama dengan keluhan saat ini.
Tidak adanya
pengawasan ketat, tidak adanya budaya sangsi yang tegas adalah inti kelemahan
pelayanan di kereta api kita. Di Stasiun Tawang Semarang sangat terkenal
petugas loket perempuan yang teramat ketus dan bikin sakit hati penumpang, tapi
tetap saja dia bertugas di sana.
Ada sebagian
orang kereta api yang merasa memiliki pikiran kuno : apapun yang dilakukan, toh
orang akan naik kereta api. Inilah pikiran monopoli yang kelak menjerumuskan
diri sendiri, ketika terjadi perubahan zaman. Penumpang yang kritis ( baca:
cerewet) memang belum mampu membuat perubahan, namun pelan tapi pasti barisan
“sakit hati” atas pelayanan di kereta api semakin menyeruak. Inilah saatnya
lomba meningkatkan pelayanan di PT KA sekaligus makin kritisnya penumpang atas
pelayanan yang diterima.
Penumpang K1 (
Eksekutif) adalah penumpang yang eksplosif dan responsive. Mereka kritis karena
merasa telah membayar mahal dan berhak memperoleh layanan kelas satu, tapi petugas
K1 belum paham layanan kelas. Kalau keluhan mereka diacuhkan, tidak ditanggapi
atau tak ada perubahan, mereka akan lari dari kereta api dan memilih pesawat.
Sementara mereka yang naik di K2 ( Bisnis)
sedikit kritis, tapi tak terlalu cerewet. Kalau keluhan tak ditanggapi dan
kejadian sama menimpa mereka, pilihan lain adalah pindah ke K1. Sementara
penumpang K3 ( Ekonomi) lebih banyak diam, meski mereka tersiksa sepanjang
perjalanan naik ka. Kenapa ? Karena mereka merasa naik ka murah meriah. Meski
keluar dari kereta seperti keluar dari cerobong asap, mereka tak pernah
mengeluh. Penumpang kelas ini barangkali tak mengerti bahwa tiket murah itu
karena disubsidi pemerintah lewat program PSO ( Public Service Obligation) dan
uang yang diberikan rakyat itu semestinya dikelola oleh PT KA dengan memberi
pelayanan terbaiknya.
Untuk memperoleh
pelayanan yang standar, berkualitas dan terus-menerus adalah membuat sistem
pengawasan. Salah satu kelemahan di PT KA adalah pengawasan dalam banyak hal.
Untuk mengatasi, cobalah melibatkan konsumen atau pelanggan dengan sangsi
kepada petugas. Di loket misalnya bisa ditulis maklumat : Jika anda tidak
dilayani dengan senyum, dan ramah, anda berhak memperoleh tiket ka gratis.
Dijamin, dalam waktu sebulan saja, petugas loket akan banyak senyum dan
penumpang senang dilayani dengan baik. Jika petugas restorasi mengantarkan
pesanan makanan lebih dari 30 menit, penumpang tak perlu bayar. Free meal ! Kalau
kondektur kepergok memasukkan penumpang gelap, pelapor dapat tiket gratis atau
hadiah Rp 1 juta.
Andai ini bisa
dilaksanakan, niscaya akan ada perubahan drastis dalam dunia perkeretaapian
kita, khususnya dalam pelayanan.Penumpang ka kita akan makin kritis, cerewet dan kreatif tapi akan naik
kereta terus. Penumpang senang dilayani, petugas akan melayani dengan baik,
sebab kalau tidak ancamannya adalah potong gaji atau pangkat tak naik-naik atau
dipindah di gudang.
Jika awas
mengawasi ini dapat terlaksana, rasanya tidak salah kita berharap akan kemajuan
perkeretaapian kita di masa mendatang. Dan percayalah, masih banyak orang
keretaapi memiliki kebanggaan, kecintaan dan keinginan untuk berubah kearah
lebih baik. Barangsiapa ( orang kereta api) bertelinga, hendaklah ia mendengarkan
………………………