Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 41, Desember 2009
TAHUN 2012 2009-12-02 15:40:16 Oleh: Mas Soegeng
Ada apa dengan tahun 2012 ?
Bagi pecinta kereta api, tentu merasakan pergerakan
aktivitas perkeretaapian kita. Sebelum film 2012 diputar, sebelum buku-buku
tentang kalender Maya yang berakhir pada 21-12-2012, tepatnya bulan Maret 2009
kemarin, terjadi perubahan situasi yang cukup signifikan di lingkungan kereta
api. Itulah saatnya ketika dua direksi PT Kereta Api (Persero) dari luar PT KA
– Ignasius Jonan (Dirut) dan Sulistyo Wimbo Hardjito (Dirkom) masuk teritori
perkeretaapian.
Segala sesuatu tampak bergerak cepat. Baru sehari
menjabat langsung ada himbauan semua pegawai PT KA harus memakai R6 (Seragam
resmi dinas PT KA). “Dengan seragam ini, biar masyarakat tahu, kita ini
melayani dengan sungguh-sungguh atau tidak,” ujar Jonan.
Esoknya, struktur organisasi dirombak total,
mengikuti style perusahaan swasta nasional. Seorang reporter Majalah KA
bergurau, di PT KA sekarang banyak presidennya. Mulai dari Executive
Vice President (EVP) sampai Vice President (VP).Tiga bulan kemudian, gajidinaikkan sampai tiga kali lipat. Di bulan
yang sama, tuslah makanan di K1 (KA Executive) dihapus. Jelas ini bikin
pengelola restorasi sewot. Selama ini mereka melayani makanan penumpang dari
beaya tiket yang dibayar PT KA.
Ini langkah berani dan
revolusioner mengingat sebagian besar pengelola restorasi, yakni Reska
(Restorasi Kereta Api) adalah anak perusahaan PT KA sendiri yang dikelola para
pejabat PT KA. Selain dicabut dari zona kenyamanan bekerja dan kehilangan
memperoleh income rutin Rp 100 miliar, sekarang pengelola restorasi harus
tertatih-tatih menjual layanan yang dari dulu masih sama.
Di sektor pelayanan kepada penumpang coba
ditingkatkan. Khususnya di K1 dengan kereta percobaan KA Argogede. Bulan awal
percobaan respon cukup bagus, namun setelah itu tak berlanjut dengan K1 lain.
Bisa dimaklumi lantaran kondisi banyak kereta eksekutif lain belum bisa
diharapkan. Gebrakan PT KA lain adalah lahirnya PT KAI Commuter Jabodetabek
(KCJ) yang khusus mengurus lalulintas dan bisnis kereta api wilayah
Jabodetabek. Selain KCJ muncul pula anak perusahaan atau divisi lain yang
tadinya belum ada seperti PT KA Properti, PT KA Wisata, PT KA Angkutan Barang
serta divisi KA Heritage.
Inilah pundi-pundi emas pendapatan PT KA nantinya
yang diharapkan akan mampu membuat kinerja perusahaan jadi kinclong dan tidak
merugi. Itu sebabnya, para manajer komersil digenjot dengan menaikkan target
sehingga segala hal yang menyangkut sewa di sekitar stasiun dinaikkan 200%
sampai 500%yang kalau tak bijak,
stasiun yang mestinya sebagai fasilitas pelayanan (penumpang) disulap jadi food
court atau semacam mall demi target !!
Disisi lain, permasalahan PSO (Public Service
Obligation) yang sejak sembilan tahun lalu selalu menyiratkan kerugian PT KA
tampaknya mulai menampakkan titik cerah dengan dibentuknya Tim Evaluasi PSO
yang dikomandani oleh Muhamad Taufik, pengamat perkeretaapian dengan mendatangi
berbagai instansi terkait.
Divisi komersiel juga menggiatkan kereta barang
sebagai andalan pemasukan PT KA dengan menggandeng berbagai mitra kerja dan
perusahaan-perusahaan yang terkait di dalam jasa angkutan barang ini. Stasiun
demi stasiun juga mulai dibenahi dan itulah sebagian dari kiprah jajaran
direksi baru PT KA dalam menyambut perubahan di tubuh PT KA.
Sudah benar-benar berubahkah perkeretaapian kita?
Berubah, ya, tapi baru pada pucuk pimpinan selevel
Manajer ke atas. Mereka siap atau tidak, dipaksa untuk berubah, mengikuti polah
atasannya. Buktinya, wawasan mereka tentang bisnis dan pelayanan serta
koorporasi sekarang ini lebih luwes. Dulu, kebanyakan adalah robot. Kalau ada
usulan tentang perubahan atau sesuatu yang baru, mereka akan melimpahkan ke
atas. Mereka tak mau ambil resiko dicurigai atau dikira cari muka. Sekarang,
ketika ide itu bisa diimplementasikan untuk kepentingan koorporasi, mereka
memberi respon.
Itulah kabar baiknya gebrakan direksi episode tahun
2009 ini. Kurang fair rasanya jika untuk waktu yang singkat ini mencari
kesalahan atau kelemahannya. Satu hal pasti adalah ada perbaikan, ada
perubahan, biar pelan, tapi pasti. Kenapa? Karena core bisnis PT KA dibidang
pelayanan kepada penumpang masih berantakan.
Contoh yang realistis sepanjang tahun 2009 ini adalah
banyak frontliner perkeretaapian kita tidak memahami konsep pelayanan. Masih
banyak petugas loket (khususnya perempuan) memasang wajah angker, mahal senyum,
cuek dan kalau bicara menyakitkan penumpang. Indah Suksmaningsih, dari YLKI
usai membeli tiket ka langsung komentar. “Saya ini kok seperti berada di Rusia.
Lihat saja petugas loket itu. Mukanya seram, tanpa senyum bahkan ketika
memberikan tiket, mereka tak melihat kita,” ujarnya.
Cobalah anda pesan makanan di atas ka. Untuk pesan
minum saja mesti menunggu 2 jam. Yang menjengkelkan, mereka ini selalu menagih
ketika kita tidur, ujar seorang penumpang via sms. Bahkan sering kita
dibangunkan dan tahu-tahu disodori beefsteak atau nasi goreng dan kita dipaksa
bayar makanan yang tidak kita pesan, gerutunya.
Petugas PT KA lain yang banyak disorot adalah Runner
AC. Banyak AC yang dipasang dengan kedinginan maksimal yang membuat bayi bisa
membeku atau AC panas yang mampu membuat para penumpang stress namun, petugas
di atas ka tak berdaya! Ini belum termasuk hal-hal lain yang tak pernah berubah
dari tahun ke tahun : air toilet sering habis, pintu bordes dibiarkan terbuka
dan kursi eksekutif yang tak nyaman untuk duduk.
Di Jabodetabek kondisinya semakin tak jelas. KRL
Ekonomi semakin jarang dinasan, terlebih pagi dan sore hari ketika dibutuhkan,
sehingga KRL AC Ekonomi saat ini sudah melebihi sumpeknya KRL Ekonomi.
Keberangkatan dan kedatangan semua kereta makin tak bisa diprediksi lantaran
tidak ada koordinasi yang baik untuk lebih mengutamakan kereta jarak jauh atau
kereta dalam kota di jalur yang sama.
Lalu, apa
hubungan semua ini dengan 2012?
Itulah misteri waktu. Tidak akan ada kiamat untuk
perkeretaapian tahun 2012. Tidak ada kiamat untuk dunia ini karena umur dunia
masih empat miliar lagi ! Empat tahun mulai sekarang, bisa disebut buah yang
telah terbentuk dari proses berkiprah. Tak perlu menunggu lima tahun, karena-
dan biasanya-kisaran waktu itulah kita bisa adil menilai kepemimpinan seseorang
dalam institusi seperti PT KA ini. Itulah tahun yang cukup untuk menunjukkan
nilai sebuah perubahan. Kita boleh berharap pada catur warsa itu untuk melihat
hasil sebuah upaya terhadap perubahan yang lebih baik di dunia perkeretaapian
kita, tapi kita juga harus siap untuk menerima sebaliknya.
Selamat Tahun Baru yang lebih berprospek untuk kereta
api kita!