Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor Rabu, 8 September 2010
Katalog Majalah
Katalog Buku
Berlangganan Majalah
Pasang Iklan
Galeri
Berita Terbaru
Kumpulan Artikel
Kontak Kami
Catatan Pinggir Rel

07 June 2010
Perempuan Yang Berjalan Di Atas Rel
Oleh: Mas Soegeng
Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 47, Juni 2010 »»»

Thumbnail Gallery
Catatan Pinggir Rel Majalah KA Edisi 41, Desember 2009
TAHUN 2012
2009-12-02 15:40:16
Oleh: Mas Soegeng

Ada apa dengan tahun 2012 ?

Bagi pecinta kereta api, tentu merasakan pergerakan aktivitas perkeretaapian kita. Sebelum film 2012 diputar, sebelum buku-buku tentang kalender Maya yang berakhir pada 21-12-2012, tepatnya bulan Maret 2009 kemarin, terjadi perubahan situasi yang cukup signifikan di lingkungan kereta api. Itulah saatnya ketika dua direksi PT Kereta Api (Persero) dari luar PT KA – Ignasius Jonan (Dirut) dan Sulistyo Wimbo Hardjito (Dirkom) masuk teritori perkeretaapian.

Segala sesuatu tampak bergerak cepat. Baru sehari menjabat langsung ada himbauan semua pegawai PT KA harus memakai R6 (Seragam resmi dinas PT KA). “Dengan seragam ini, biar masyarakat tahu, kita ini melayani dengan sungguh-sungguh atau tidak,” ujar Jonan.

Esoknya, struktur organisasi dirombak total, mengikuti style perusahaan swasta nasional. Seorang reporter Majalah KA bergurau, di PT KA sekarang banyak presidennya. Mulai dari Executive Vice President (EVP) sampai Vice President (VP).  Tiga bulan kemudian, gaji  dinaikkan sampai tiga kali lipat. Di bulan yang sama, tuslah makanan di K1 (KA Executive) dihapus. Jelas ini bikin pengelola restorasi sewot. Selama ini mereka melayani makanan penumpang dari beaya tiket yang dibayar PT KA.

Ini langkah berani dan revolusioner mengingat sebagian besar pengelola restorasi, yakni Reska (Restorasi Kereta Api) adalah anak perusahaan PT KA sendiri yang dikelola para pejabat PT KA. Selain dicabut dari zona kenyamanan bekerja dan kehilangan memperoleh income rutin Rp 100 miliar, sekarang pengelola restorasi harus tertatih-tatih menjual layanan yang dari dulu masih sama.

Di sektor pelayanan kepada penumpang coba ditingkatkan. Khususnya di K1 dengan kereta percobaan KA Argogede. Bulan awal percobaan respon cukup bagus, namun setelah itu tak berlanjut dengan K1 lain. Bisa dimaklumi lantaran kondisi banyak kereta eksekutif lain belum bisa diharapkan. Gebrakan PT KA lain adalah lahirnya PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) yang khusus mengurus lalulintas dan bisnis kereta api wilayah Jabodetabek. Selain KCJ muncul pula anak perusahaan atau divisi lain yang tadinya belum ada seperti PT KA Properti, PT KA Wisata, PT KA Angkutan Barang serta divisi KA Heritage.

Inilah pundi-pundi emas pendapatan PT KA nantinya yang diharapkan akan mampu membuat kinerja perusahaan jadi kinclong dan tidak merugi. Itu sebabnya, para manajer komersil digenjot dengan menaikkan target sehingga segala hal yang menyangkut sewa di sekitar stasiun dinaikkan 200% sampai 500%  yang kalau tak bijak, stasiun yang mestinya sebagai fasilitas pelayanan (penumpang) disulap jadi food court atau semacam mall demi target !!

Disisi lain, permasalahan PSO (Public Service Obligation) yang sejak sembilan tahun lalu selalu menyiratkan kerugian PT KA tampaknya mulai menampakkan titik cerah dengan dibentuknya Tim Evaluasi PSO yang dikomandani oleh Muhamad Taufik, pengamat perkeretaapian dengan mendatangi berbagai instansi terkait.

Divisi komersiel juga menggiatkan kereta barang sebagai andalan pemasukan PT KA dengan menggandeng berbagai mitra kerja dan perusahaan-perusahaan yang terkait di dalam jasa angkutan barang ini. Stasiun demi stasiun juga mulai dibenahi dan itulah sebagian dari kiprah jajaran direksi baru PT KA dalam menyambut perubahan di tubuh PT KA.

Sudah benar-benar berubahkah perkeretaapian kita?

Berubah, ya, tapi baru pada pucuk pimpinan selevel Manajer ke atas. Mereka siap atau tidak, dipaksa untuk berubah, mengikuti polah atasannya. Buktinya, wawasan mereka tentang bisnis dan pelayanan serta koorporasi sekarang ini lebih luwes. Dulu, kebanyakan adalah robot. Kalau ada usulan tentang perubahan atau sesuatu yang baru, mereka akan melimpahkan ke atas. Mereka tak mau ambil resiko dicurigai atau dikira cari muka. Sekarang, ketika ide itu bisa diimplementasikan untuk kepentingan koorporasi, mereka memberi respon.

Itulah kabar baiknya gebrakan direksi episode tahun 2009 ini. Kurang fair rasanya jika untuk waktu yang singkat ini mencari kesalahan atau kelemahannya. Satu hal pasti adalah ada perbaikan, ada perubahan, biar pelan, tapi pasti. Kenapa? Karena core bisnis PT KA dibidang pelayanan kepada penumpang masih berantakan.

Contoh yang realistis sepanjang tahun 2009 ini adalah banyak frontliner perkeretaapian kita tidak memahami konsep pelayanan. Masih banyak petugas loket (khususnya perempuan) memasang wajah angker, mahal senyum, cuek dan kalau bicara menyakitkan penumpang. Indah Suksmaningsih, dari YLKI usai membeli tiket ka langsung komentar. “Saya ini kok seperti berada di Rusia. Lihat saja petugas loket itu. Mukanya seram, tanpa senyum bahkan ketika memberikan tiket, mereka tak melihat kita,” ujarnya.

Cobalah anda pesan makanan di atas ka. Untuk pesan minum saja mesti menunggu 2 jam. Yang menjengkelkan, mereka ini selalu menagih ketika kita tidur, ujar seorang penumpang via sms. Bahkan sering kita dibangunkan dan tahu-tahu disodori beefsteak atau nasi goreng dan kita dipaksa bayar makanan yang tidak kita pesan, gerutunya.

Petugas PT KA lain yang banyak disorot adalah Runner AC. Banyak AC yang dipasang dengan kedinginan maksimal yang membuat bayi bisa membeku atau AC panas yang mampu membuat para penumpang stress namun, petugas di atas ka tak berdaya! Ini belum termasuk hal-hal lain yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun : air toilet sering habis, pintu bordes dibiarkan terbuka dan kursi eksekutif yang tak nyaman untuk duduk.

Di Jabodetabek kondisinya semakin tak jelas. KRL Ekonomi semakin jarang dinasan, terlebih pagi dan sore hari ketika dibutuhkan, sehingga KRL AC Ekonomi saat ini sudah melebihi sumpeknya KRL Ekonomi. Keberangkatan dan kedatangan semua kereta makin tak bisa diprediksi lantaran tidak ada koordinasi yang baik untuk lebih mengutamakan kereta jarak jauh atau kereta dalam kota di jalur yang sama.

 Lalu, apa hubungan semua ini dengan 2012?

Itulah misteri waktu. Tidak akan ada kiamat untuk perkeretaapian tahun 2012. Tidak ada kiamat untuk dunia ini karena umur dunia masih empat miliar lagi ! Empat tahun mulai sekarang, bisa disebut buah yang telah terbentuk dari proses berkiprah. Tak perlu menunggu lima tahun, karena- dan biasanya-kisaran waktu itulah kita bisa adil menilai kepemimpinan seseorang dalam institusi seperti PT KA ini. Itulah tahun yang cukup untuk menunjukkan nilai sebuah perubahan. Kita boleh berharap pada catur warsa itu untuk melihat hasil sebuah upaya terhadap perubahan yang lebih baik di dunia perkeretaapian kita, tapi kita juga harus siap untuk menerima sebaliknya.

Selamat Tahun Baru yang lebih berprospek untuk kereta api kita!

 

 

 


Edisi Terbaru

Link

Beranda | Tentang Kami | Railfans | Forum | Jadwal KA | Aktifitas | Kerjasama | Distributor
Copyright© 2009 majalahka.com - powered by: cyberionmedia.com
170376