Thursday , December 14 2017
Home / Salam KA / Catatan Pinggir Rel / Yuko, Maukah Kamu Terus Naik Kereta Bersamaku?

Yuko, Maukah Kamu Terus Naik Kereta Bersamaku?

Tahun 2012 diawali berita hangat tentang rencana hijrah penumpang KA Prameks jurusan Kutoarjo-Jogja-Solo. Ini dipicu berita rencana kenaikan tiket Prameks dari Rp 10.000,- menjadi Rp 15.000,- Bagi masyarakat, kenaikan ini berat, dihitung pendapatan rata-rata masyarakat setempat. Dengan tiket sebesar itu, beaya transportasi penduduk akan naik menjadi 40%-60%.

PT KAI Daop 6 Jogja yang mengelola KA Prameks punya argumentasi sendiri. Dengan kondisi pelayanan yang banyak dikeluhkan masyarakat, maka mau tak mau tiket harus naik sehingga Daop 6 bisa melayani penumpang lebih baik dengan menyediakan KA Prameks yang baru dan ber AC.

Empat bulan sudah, benturan perbedaan ini tak terelakkan lagi. Puncaknya adalah ketika Direksi PT KAI bertemu dengan Pramekers (Penumpang Kereta Api Prameks) di Jogja. Nyaris hubungan antara konsumen dan produsen (pengelola kereta api) tak lagi bisa disebut harmonis. Bahkan, hari-hari ini, issue penumpang Prameks beralih ke moda transportasi lain seperti bus dan motor kian kencang. Jika ini terjadi, maka ini merupakan kemunduran hubungan antara produsen dan konsumen.

Tiba-tiba saya teringat Yuko. Seorang perempuan cantik, bermata lentik dengan jari-jari panjang seperti pemetik daun teh pegunungan. Setiap hari, Yuko naik kereta api menuju kota dimana ibunya membuka sebuah toko kertas untuk bahan membuat origami.

Stasiun kecil itu sepi. Hanya ada beberapa orang menunggu di stasiun. Baik penumpang maupun petugas saling mengenal dengan akrab. Yang paling banyak dikenal tentu saja masinis. Tidak banyak masinis yang ada di Ichibata. Tapi dengan kesetiaan dan dedikasi, mereka tetap mempertahankan kereta agar terus melayani penumpang desa. Bukan ingin sekedar bertahan. Tapi memang sudah seharusnya kereta api seperti itu.

Agar kereta api berjalan, tugas masinis memang utama dan terutama di Ichibata. Di belakang masinis, terdapat ratusan karyawan agar kereta terus berjalan dengan benar. Di Ichibata, semua karyawan kereta bekerja dengan hati, dedikasi dan kesetiaan tinggi.

Salah satu masinis muda adalah Tutsusui. Ia tampak gagah dengan pakaian baju putih dan celana biru. Masinis muda ini sopan dan akrab dengan siapa saja. Ia selalu berdiri di depan pintu untuk menyapa sekaligus membantu para penumpang. Pendek kata, Tutsusui merupakan orang kereta api yang amat memahami bagaimana membuat perusahaan kereta api itu bangga lewat pelayanan yang diberikan kepada penumpangnya.

Setelah berjalan enam tahun, Ichibata Railway memiliki kepala stasiun baru yang berdisiplin amat tinggi. Dia adalah KS (Kepala Stasiun) baru di Stasiun ini sejak Ichibata Railway diberi kewenangan mengelola keuangan sendiri dan lepas dari Pemerintah. Perilaku masinis Tutsusui bertolak belakang dengan KS yang bisa jadi tak seorang pun penduduk desa itu mau mengetahui namanya. Orangnya gendut, berkumis, matanya tajam dan kerjanya hanya berdiri di atas menara stasiun untuk melihat pergerakan kereta dan orang-orang yang hilir-mudik.

Suka atau tidak, sejak kehadiran KS ini, stasiun mengalami perubahan besar. Fasilitas bangku tempat duduk yang dulu hanya ada 8 sekarang sudah berjumlah ratusan. Berderet sepanjang peron. Sudah ada orang buka cafe, toko buku dan cinderamata. Semua yang disediakan untuk penumpang tampaknya menyenangkan semua orang. Kecuali satu : harga tiket naik. “Kalau tidak naik, kami tidak bisa menyediakan pelayanan dengan baik kepada penumpang,” kilah Kepala Stasiun.

Pendapatan masyarakat desa masih rendah untuk membayar tiket yang tinggi. Sekelompok warga yang tinggal di pinggir sungai sudah bicara dengan pak KS tapi petugas itu bergeming. Ia hanya menjalankan pekerjaan terbaiknya. Setelah sekian kali tak bisa diyakinkan dan tiket tak bisa turun, banyak penduduk beralih ke jalan. Tidak lagi naik kereta.

Tak lama, jalanan desa macet karena derasnya orang naik motor dan mobil. Yang memprihatinkan produktivitas masyarakat setempat menurun drastis. Warga desa yang biasanya sehat, banyak yang sakit. Cape, bau asap tak sedap dan energi negatif menyertai kemacetan itu.

Tutsusui sering menangis melihat dari jendela loko, bila hujan tiba, banyak orang terjebak kemacetan di sepanjang jalan raya. Ia sungkan untuk bicara dengan pak KS sekedar menyatakan keprihatinannya akan nasib Ichibata Railway jika ditinggal penumpangnya.

Orang baik selalu didengarkan. Tak lama, terjadi pergantian kebijakan Pemerintah. Itu setelah muncul berita bahwa nilai hidup warga desa itu menurun. Pemerintah malu jika memiliki warga miskin sekaligus bodoh dan tidak kreatif. Setelah mendapat laporan bagaimana kereta api tidak memiliki peran, tiket diturunkan dan pelayanan kepada penumpang ditingkatkan. Salah satunya adalah soal waktu keberangkatan dan kedatangan kereta. Mereka lalu menjadi amat disiplin, meski tetap ramah kepada penumpang. Pemerintah Jepang tampaknya paham akan suara-suara rakyatnya. Tapi ia juga ingin mendidik warganya agar menghargai nilai uang dan kelayakan. Sejak tiket diturunkan (meski sedikit) warga mulai membanjiri lagi stasiun dan mulai naik kereta. Wajah-wajah yang penuh senyum kedamaian mulai bertebaran di lingkungan stasiun. Baik tawa gembira penumpang, maupun senyum petugas Ichibata Railway.

Tutsusui harus tersenyum meski ibunya sedang berbaring di rumah sakit. Setiap hari, selama berbulan-bulan Tutsusui melewati rumah sakit dimana ibunya berbaring. Ia selalu tersenyum ke arah jendela di mana sang ibu dirawat, meski ia tahu tak bisa melihat kondisi ibunya. Begitu juga sang ibu selalu meminta perawat untuk mendorong tempat tidurnya ke arah jendela agar ia bisa melihat kereta yang lewat setiap bunyi kereta meraung-raung. Tampaknya komunikasi masinis ini dengan ibunya adalah lewat peluit kereta yang dibunyikan dengan irama tertentu seakan berbunyi ” Arigato mama…watashi wa anata oashite. Mama, terimakasih..aku mencintai kamu..”

Sang ibu seakan tahu makna jeritan kereta itu dengan cara selalu melihat selintas kereta merayap di bawah gedung pencakar langit. Yang Tutsusui tidak tahu adalah setiap kereta itu lewat atau Tutsusui melambai, air mata sang ibu senantiasa meleleh membasahi pipinya. Air mata bahagia. Bahagia anaknya menjadi masinis kereta api. Persis seperti yang dulu dicita-citakan sejak usia 9 tahun. Sang ibu tak menyangka Tutsusui menjadi masinis favorit.

Jam 06;29 pagi, ketika kereta awal mau berangkat, masinis sudah ada di ruang kemudi. Satu menit lagi kereta berangkat. Seorang wanita muda berlari-lari mau masuk ke kereta dan terjatuh tepat di depan pintu depan. Masinis segera keluar dan menolong sang gadis yang mukanya menyapu aspal peron stasiun. Dengan sepenuh hati Tutsusui memapahnya, merapikan barang yang tercecer, membawakan tas kuliahnya dan mengantar masuk ke kereta. Saat itulah Yuko terpeleset dan pipinya tersentuh tangan Tutsusui. Pipi Yuko memerah dan degup jantung Tutsusui melebihi kencangnya kereta api.

Yuko terduduk lemas, memandang sekejap wajah masinis sembari berkata. “Aligato gosiamaste. Nama saya Yuko”. Masinis itu terpana sembari memperlambat degup jantungnya. “Saya masinis. Saya Tutsusui”. Lama nian masinis itu memandang Yuko. Dan itu sama dengan 30 detik terlambat dari waktu yang ditentukan dan itulah kesalahan paling fatal yang dilakukan Tutsusui.

Pagi berikutnya, Yuko naik kereta membawa kado untuk sang masinis yang tampan. Namun Yuko kecewa. Tutsusui tidak ada. Hari itu dan tiga hari ke depan, Tutsusui tidak boleh pegang kemudi masinis karena terlambat 30 detik. Yuko kecewa dan Tutsusui bukan main malunya karena dinilai tidak disiplin “Ichibata perlu 5 tahun membina penumpang melalui saya dan 30 detik telah membuat masa depan saya berwarna hitam,” bathin Tutsusui.

Ketegangan pun terjadi, ketika ia tahu sepekan kemudian, ia tak boleh menjalankan kereta. Ia hanya berdiri di depan pintu kereta, mengangguk kepada setiap orang yang naik turun gerbong. Kepada penumpang atau petugas. Sakit hati Tutsusui tak mampu ditahan lagi. Setelah 20 tahun mengabdi di Ichibata Railway ia berniat mengundurkan diri karena sakit hati. Apalagi ia tahu Yuko tidak naik kereta lagi.

Niat itu terdengar dalam waktu sekian menit ke semua penumpang dan petugas kereta api Ichibata Railway. Berbondong-bondong orang yang mengenal Tutsusui tak kuasa menahan haru.

Di peron penuh berbagai orang. Ada penumpang. Juga ada kepala perjalanan dan staf.  Dan,  juga ada Yuko yang berdiri paling belakang tertutup topi anyaman. Tutsusui sedang pamitan dengan Kepala Stasiun. Sambil menjabat tangan masinis Tutsusui, Kepala Stasiun berkata, “Kalau kamu tidak mencintai pekerjaanmu sebagai masinis, keluarlah dengan senyum kemenangan seakan kamu terbebas dari penjara. Namun jika kamu masih mencintai pekerjaanmu sebagai masinis di Ichibata mengapa dirimu mudah dibelokkan oleh egomu?”.

Orang-orang memandang tegang ke arah jendela kaca bak lukisan seorang masinis dan kepala stasiun. Di peron itu semua orang berteriak agar Tutsusui tidak meninggalkan keretanya, karena kalau itu dilakukan, mereka tidak naik kereta lagi. Hubungan penumpang dan masinis sudah demikian emosional.

Tiba-tiba masinis Tutsusui keluar dengan masih memegang topi masinisnya, berjalan menunduk lesu. Tiba-tiba ia berhenti seakan berpikir. Semua orang tegang, ketika masinis Tutsusui memegang ujung topi. Hanya ada dua hal yang bisa dilakukan. Melempar topi itu ke angkasa sebagai tanda ia keluar dari kereta api atau meletakkan di kepalanya yang bermakna, ia akan terus  menjadi masinis. Semua orang menghela nafas melihat gerakan sang masinis. Tutsusui memandang setiap orang di peron, setiap staf kereta yang ada di sana dan samar-samar melihat sosok Yuko. Semua mata seakan berkata,”Tutsusui, jangan tinggalkan keretamu. Jangan tinggalkan penumpang kamu.

Tutsusui memegang ujung topi dan melemparkan topi itu ke atas kepalanya . Semua orang bertepuk tangan. Masinis Tutsusui berjalan merebak orang-orang itu dan menuju ke arah Yuko sambil membungkuk. “Yuko maukah engkau tetap naik keretaapi bersamaku? “

Stasiun kecil itu tak mampu menampung gemuruh teriakan para penumpang dan lautan senyum. Sungguh menyenangkan memiliki pekerjaan yang membuat setiap orang bahagia. Seperti melayani penuimpang kereta api ini………

Saya tidak tahu apakah pemerintah Indonesia bahagia membiarkan penumpang KA Prameks itu menderita karena tak mampu membayar tiket mahal, atau memilih mengorbankan PT KAI. Saya kira Pemerintah bingung sehingga menghilangkah fungsi kereta api sebagai angkutan masal untuk melayani masyarakat luas.

Pun demikian sudah jelas dan terang benderang : bahwa Pemerintah tidak berfungsi ketika rakyat yang telah membayar pajak ditelantarkan begitu saja untuk sekedar bisa naik kereta api ke tempat kerja. Apakah memenuhi harapan penumpang tanpa merugikan kepentingan bisnis tidak ada pemecahannya?

Ini adalah cerita keprihaatinan saya. Apa ceritamu tentang kereta api Indonesia ?

About Redaksi MKA

Check Also

DSC_0291

Welcome Back To Perth

WELCOME BACK TO PERTH! Hubungan baik dengan Railfan asal Australia membawa berkah bagi Majalah KA. ...

2 comments

  1. Memang semua yg ada itu bagus, menarik, dan mempesona hingga buku MKA, tas trolly CC201 yg sangat mempesona. semoga MKA akan menambah majalahnya yg lebih menarik, bagus, dan mempesona. aminn.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *